Oleh: Muhammad Munir An-Nabawi, M.Psi*
Beberapa sekolah di Aceh masih mengalami kerusakan berat akibat banjir yang melanda beberapa pekan lalu. Atap yang runtuh, dinding retak, dan ruang kelas tergenang air menjadi pemandangan nyata di berbagai wilayah, termasuk Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Nagan Raya. Fasilitas pendidikan yang biasanya lengkap kini harus diperbaiki secara bertahap. Bahkan, beberapa sekolah menggunakan tenda darurat sebagai ruang belajar sementara agar proses belajar mengajar tetap berjalan meski kondisi fisik sekolah belum pulih sepenuhnya.
Lumpur masih menempel di halaman sekolah, dan air pascabanjir belum sepenuhnya surut. Buku dan seragam siswa pun banyak yang kotor atau hilang. Namun, hal itu tidak menghentikan langkah anak-anak Aceh untuk kembali ke sekolah. Mereka hadir dengan semangat tinggi, melewati jalan licin dan membawa tas yang basah, siap mengikuti pelajaran meski lingkungan fisik dan fasilitas pendukung belum ideal. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat belajar jauh lebih penting daripada kondisi fisik atau kenyamanan sementara.
Satu hal yang lebih penting daripada seragam, sepatu, atau fasilitas yang rusak adalah semangat belajar dan keinginan untuk bangkit. Anak-anak Aceh membuktikan bahwa rintangan hanyalah tantangan sementara, sementara tekad dan keberanian untuk menuntut ilmu adalah kekuatan sejati. Lumpur dan kerusakan tidak mampu memadamkan semangat mereka, karena belajar tetap menjadi prioritas utama menuju masa depan yang lebih cerah.
Daftar Isi
Edaran Dinas Pendidikan: Fleksibilitas Saat Darurat
Menyikapi kondisi darurat pascabanjir, Dinas Pendidikan Aceh mengeluarkan edaran resmi yang memperbolehkan siswa masuk sekolah tanpa seragam dan sepatu pada awal semester genap 2025/2026. Kebijakan ini menekankan bahwa keselamatan dan kenyamanan siswa lebih penting daripada aturan seragam sementara waktu. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Muharuddin, M.Pd., mengatakan, “Kami memahami kondisi darurat pascabanjir. Siswa tetap dapat hadir dan belajar tanpa terbebani kewajiban seragam. Fokus kami saat ini adalah keberlangsungan pendidikan dan keselamatan anak-anak.”
Kebijakan ini bukan berarti menurunkan disiplin, melainkan menegaskan bahwa hak anak untuk belajar tetap diutamakan. Anak-anak yang kehilangan seragam, sepatu, atau buku tetap bisa mengikuti pembelajaran, sementara guru dan tenaga kependidikan terus mendukung proses belajar mengajar dengan kreatif dan penuh semangat.
Selain itu, guru dan tenaga kependidikan terus berupaya mendukung proses belajar mengajar dengan kreatif dan penuh semangat. Mereka membantu anak-anak menyesuaikan diri dengan situasi darurat, menata fasilitas sementara, dan memastikan pembelajaran tetap berjalan lancar. Dengan dukungan ini, meski seragam dan sepatu tidak lengkap, semangat belajar siswa tetap terjaga dan prioritas pendidikan tetap terwujud.
Sekolah Pascabanjir: Pembelajaran Hidup dan Pendidikan
Sekolah pascabanjir bukan hanya tentang mata pelajaran di kelas, tetapi juga pelajaran hidup. Anak-anak belajar tentang: Ketangguhan (menghadapi rintangan dan tetap maju), Kedisiplinan yang fleksibel (memahami bahwa aturan bisa disesuaikan saat kondisi darurat), Kerja sama dan solidaritas (membantu teman, guru, dan masyarakat membersihkan sekolah).
Guru dan tenaga kependidikan juga bekerja ekstra, membersihkan lumpur, menata fasilitas sementara, dan memastikan anak-anak tetap bisa belajar dengan aman. Kehadiran siswa menunjukkan bahwa semangat belajar tidak bisa dihalangi oleh kondisi fisik atau kesulitan sementara.
Dukungan Orang Tua dan Masyarakat
Orang tua dan masyarakat memiliki peran besar dalam menjaga semangat anak-anak untuk tetap bersekolah pascabanjir. Dukungan moral dari keluarga membuat anak-anak merasa dihargai, sementara pengertian terhadap kondisi darurat dan dorongan untuk tetap hadir di sekolah menjadi motivasi tambahan bagi mereka. Tanpa dorongan ini, semangat belajar anak-anak bisa mudah goyah di tengah kesulitan.
Selain dukungan moral, peran aktif masyarakat juga sangat penting. Di beberapa wilayah Aceh, masyarakat ikut gotong royong membersihkan halaman sekolah, menata ruang kelas yang rusak, dan membantu menyiapkan fasilitas darurat agar anak-anak dapat belajar dengan aman. Keterlibatan masyarakat ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab sekolah atau guru.
Masyarakat juga berkontribusi dengan mendonasikan buku, alat tulis, dan perlengkapan sekolah bagi anak-anak yang kehilangan fasilitas pascabanjir. Bantuan seperti ini tidak hanya meringankan beban siswa dan orang tua, tetapi juga menumbuhkan rasa solidaritas dan kepedulian sosial sejak dini. Anak-anak belajar bahwa mereka tidak sendiri, dan setiap bantuan, sekecil apa pun, memiliki nilai besar dalam proses belajar mereka.
Kebersamaan ini membuat proses belajar pascabanjir menjadi lebih ringan dan bermakna. Anak-anak tidak hanya menuntut ilmu di tengah tantangan, tetapi juga belajar tentang kerja sama, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai ini menjadi pelajaran hidup yang tak kalah penting dari pelajaran di kelas, membentuk karakter tangguh dan semangat juang yang akan mereka bawa sepanjang hidup.
Semangat Tetap Nomor Satu
Banjir, lumpur, atau seragam yang kotor hanyalah bagian kecil dari perjalanan. Yang terpenting adalah ketekunan, semangat, dan niat baik untuk terus belajar dan berkembang. Anak-anak Aceh membuktikan bahwa rintangan fisik hanyalah tantangan sementara, sementara semangat untuk menuntut ilmu adalah kekuatan sejati.
Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga: tidak ada halangan yang cukup besar untuk menghentikan semangat belajar. Meski berlumpur, meski fasilitas terbatas, semangat tetap nomor satu. Karena semangatlah yang akan membentuk masa depan yang lebih kuat, tangguh, dan cerah.
Dosen UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
