PAGI di halaman upacara SMAN 1 Samudera, Aceh Utara, Kamis (1/10/2026), terasa berbeda. Di antara barisan siswa dan guru yang memenuhi lapangan, lantunan zikir perlahan mengisi udara.
Suara-suara itu berpadu dalam satu suasana: khidmat. Tidak ada hiruk-pikuk seperti hari sekolah biasa. Yang terdengar adalah zikir, doa, dan untaian kisah tentang sosok yang namanya terus hidup dalam ingatan umat Islam, Nabi Muhammad SAW.
Di lapangan upacara sekolah itu, para siswa dan siswi, dewan guru serta tamu undangan berkumpul untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Peringatan itu tidak sekadar menjadi sebuah kegiatan tahunan. Di balik lantunan zikir dan doa, terselip upaya untuk mengenalkan kembali perjalanan hidup Rasulullah kepada generasi muda, generasi yang kelak akan membawa nilai-nilai kehidupan ke tengah masyarakat.
Rangkaian acara diawali dengan zikir bersama. Suasana kemudian berlanjut dengan tausiah yang mengajak para siswa menyelami kembali perjalanan Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam.
Bagi sebagian siswa, kisah Rasulullah mungkin telah mereka dengar sejak kecil. Namun, ketika kisah itu kembali disampaikan di tengah lingkungan sekolah, pesan yang terkandung di dalamnya menemukan ruang baru: bagaimana keteladanan Rasulullah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala SMAN 1 Samudera, Zulkiram, mengatakan peringatan Maulid Nabi menjadi momentum bagi para siswa untuk mengenal lebih jauh sejarah Rasulullah SAW, khususnya perjuangan beliau dalam menyebarkan ajaran Islam.
Menurutnya, mengenal Rasulullah bukan hanya tentang mengetahui perjalanan hidup beliau, tetapi juga memahami dan meneladani akhlak yang dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Dengan kegiatan ini, para siswa dapat mengetahui sejarah Rasulullah dalam menyebarkan Islam dan meneladani akhlak yang dicontohkan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Zulkiram.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang panjang.
Sebab sekolah bukan hanya tempat untuk mengejar angka-angka di atas kertas. Di sana, pengetahuan dan karakter berjalan beriringan. Anak-anak muda tidak hanya dipersiapkan untuk mengetahui banyak hal, tetapi juga untuk belajar menjadi manusia yang memiliki sikap dan akhlak.
Di bawah teduh zikir pagi itu, halaman sekolah seakan berubah menjadi ruang untuk mengingat. Para siswa tidak hanya mendengar nama Rasulullah disebut, tetapi juga diajak menengok kembali nilai-nilai yang diwariskan beliau: keteladanan, kesabaran, dan akhlak dalam menjalani kehidupan.
Maulid pun menjadi lebih dari sekadar peringatan.
Ia menjadi jeda di tengah kesibukan belajar. Sebuah ruang untuk menundukkan hati, mendengarkan kisah tentang Rasulullah, kemudian membawa pulang satu pesan sederhana—bahwa mencintai Rasulullah tidak berhenti pada ucapan, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Dan pagi itu, di lapangan upacara SMAN 1 Samudera, zikir dan doa mengalir bersama harapan. Semoga dari sekolah itu tumbuh generasi yang tidak hanya mengenal sejarah Rasulullah, tetapi juga mampu meneladani akhlaknya dalam perjalanan hidup mereka.[]








