LAUT membentang luas di antara Simeulue dan daratan Aceh. Ombaknya menyimpan cerita tentang jarak, penantian, dan perjuangan orang-orang yang setiap hari harus menyeberang demi sebuah urusan. Selama lebih dari 12 jam, KMP Aceh Hebat 2 membelah perairan, membawa Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh, Nasir Nurdin, menuju pulau yang dijuluki Bumi Ate Fulawan—bumi berhati emas.
Namun, perjalanan itu bukan semata-mata tentang kapal yang berlayar dari Pelabuhan Calang, Aceh Jaya. Ada perjumpaan yang hendak dirawat, ada suara yang ingin didengar, dan ada harapan yang menunggu untuk disampaikan.
Senin sore, 19 Oktober 2026, kapal bertolak dari Calang. Setelah semalaman mengarungi laut, Selasa pagi, 20 Oktober 2026, Nasir tiba di Pelabuhan Penyeberangan Sinabang, Kota Batu, Kecamatan Simeulue Timur. Di sana, Ketua PWI Simeulue, Firnalis, bersama jajaran pengurus dan belasan anggota telah menunggu.
“Selamat datang di Simeulue, pulau berjuluk hati emas,” ucap Firnalis.
Sambutan itu menjadi pembuka sebuah perjumpaan yang lebih dalam daripada sekadar kunjungan organisasi. Di tanah yang dikelilingi laut itu, ada keluarga besar pers yang ingin menyampaikan isi hati kepada pemimpin organisasinya.
Nasir datang bersama staf pribadinya, Syahrul Ramadhan, dan Ketua PWI Aceh Utara, Abdul Halim. Selama dua hari, Selasa hingga Rabu, 20–21 Oktober 2026, mereka berbincang, bersilaturahmi, dan mendengarkan cerita tentang kehidupan wartawan di pulau yang jaraknya tidak selalu mudah ditempuh.
Di sebuah warung kopi di Sinabang, percakapan itu menemukan kehangatannya. Asap kopi perlahan mengepul, gelas-gelas tersaji di atas meja, sementara kata-kata mengalir dari hati para wartawan yang selama ini menjaga denyut pers di daerahnya masing-masing.
Di sana, nama Nasir Nurdin tidak hanya hadir sebagai Ketua PWI Aceh. Ia juga hadir sebagai bakal calon petahana yang akan kembali maju dalam Konferensi Provinsi XIII PWI Aceh pada 20–22 November 2026, membawa catatan perjalanan hampir lima tahun kepemimpinan yang kini dinilai dan ditimbang kembali oleh anggota.
Di antara percakapan itu, sebuah kata muncul dengan makna yang tidak sederhana: kepercayaan.
“Menurut kami, salah satu capaian terbesar adalah terbangunnya kembali trust atau kepercayaan mitra kerja dan kalangan internal. Ini yang kemudian membuat denyut organisasi bisa berjalan baik dan minat pekerja pers untuk menjadi anggota PWI terus bertambah,” kata seorang pengurus PWI Simeulue.
Kepercayaan memang tidak selalu terdengar lantang. Ia tidak selalu hadir dalam tepuk tangan atau tertulis dalam laporan pertanggungjawaban. Terkadang, ia tumbuh perlahan, setelah kekecewaan dilewati, setelah perbedaan dirangkul, dan setelah orang-orang kembali percaya bahwa sebuah organisasi masih memiliki rumah untuk mereka pulang.
Bagi wartawan, rumah itu bukan sekadar bangunan dengan papan nama. Ia adalah tempat berlindung ketika profesi menghadapi tekanan, tempat mencari pertolongan ketika masalah datang, dan tempat menautkan harapan ketika perjalanan terasa berat.
Namun, di Simeulue, rumah besar tersebut terasa cukup jauh. Laut menjadi pemisah yang nyata. Perjalanan panjang, ongkos penyeberangan, dan biaya hidup menjadi bagian dari kenyataan yang harus diperhitungkan setiap kali urusan organisasi mengharuskan wartawan datang ke Banda Aceh.
Jarak itu mungkin hanya garis pada peta. Tetapi bagi wartawan daerah, jarak bisa berarti pengeluaran tambahan, waktu yang terpotong, dan kesempatan yang kadang harus dikorbankan.
Karena itulah, di tengah apresiasi atas capaian kepengurusan, pengurus PWI Simeulue menyampaikan harapan agar perhatian terhadap wilayah kepulauan tidak berhenti pada kunjungan dan pertemuan.
“Peran Pengurus PWI Aceh untuk menjembatani penguatan kolaborasi organisasi dengan Pemkab Simeulue dan mitra kerja lainnya sangat kami harapkan. Ini harus kita lakukan secara berkala, baik di Simeulue atau di Banda Aceh,” kata Firnalis.
Harapan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang mendasar: kehadiran.
Bahwa wartawan yang bekerja jauh dari pusat provinsi juga ingin merasa dekat dengan organisasinya. Bahwa mereka tidak ingin hanya diingat ketika ada agenda besar, melainkan juga ketika menghadapi persoalan sehari-hari. Bahwa persaudaraan profesi semestinya tidak mengenal batas geografis, meski laut terbentang di antaranya.
Di warung kopi itu, harapan lain kemudian disampaikan. Kali ini bukan tentang program besar atau perubahan sistem organisasi, melainkan sesuatu yang lebih dekat dengan isi dompet para wartawan.
Firnalis berharap Kantor PWI Aceh di Banda Aceh suatu hari dilengkapi mess atau kamar singgah yang dapat dimanfaatkan anggota dari berbagai kabupaten dan kota ketika memiliki urusan di ibu kota provinsi.
“Jika rumah besar kita, Kantor PWI, bisa dilengkapi dengan fasilitas itu, tentu akan sangat membantu dari segi pengeluaran wartawan yang sangat pas-pasan,” ujar Firnalis, diamini Bendahara PWI Simeulue, Al-Ashab.
Kalimat itu seperti membuka jendela kecil ke dalam kehidupan wartawan daerah.
Di balik berita yang mereka tulis, ada perjalanan yang harus dibiayai. Ada kendaraan yang harus diisi bahan bakar. Ada keluarga yang tetap menunggu kebutuhan di rumah. Ada pengeluaran yang terus berjalan, bahkan ketika honorarium tidak selalu datang tepat waktu atau sebanding dengan tenaga yang dicurahkan.
Wartawan kerap hadir di tengah kesulitan orang lain, mencatat keluhan masyarakat, menyuarakan ketidakadilan, dan membawa persoalan ke ruang publik. Namun, tidak semua kesulitan mereka sendiri diketahui orang.
Kadang-kadang, yang dibutuhkan bukan sesuatu yang megah. Cukup sebuah tempat singgah ketika harus mengurus pekerjaan di Banda Aceh. Sebuah kamar untuk beristirahat setelah perjalanan panjang. Sebuah ruang yang membuat mereka merasa tidak sedang sendirian menjalani profesi.
Sebab, di balik identitas sebagai wartawan, ada manusia biasa yang juga harus menghitung uang perjalanan, memikirkan biaya makan, dan mempertimbangkan kebutuhan keluarga.
Bagi Firnalis dan kawan-kawan, fasilitas itu bukan sekadar bangunan tambahan. Ia adalah lambang kepedulian—bahwa rumah besar organisasi semestinya memberi ruang bagi semua anggotanya, termasuk mereka yang harus menyeberangi laut untuk mengetuk pintunya.
Firnalis memahami bahwa memimpin organisasi sebesar PWI bukan pekerjaan ringan. Banyak persoalan harus ditangani, banyak kepentingan perlu dipertemukan, dan tidak semua harapan bisa diwujudkan dalam waktu singkat.
Organisasi, bagaimanapun, tidak berdiri di atas pundak seorang ketua saja. Ia bertahan karena kerja bersama, kesediaan untuk saling mendengar, dan kemauan menjaga kebersamaan ketika perbedaan mulai terasa.
Dalam pandangan pengurus PWI Simeulue, kepengurusan Nasir telah melakukan sejumlah perubahan, mulai dari bidang organisasi dan keanggotaan, hubungan kemitraan antarlembaga, pembelaan wartawan, pendidikan, hingga kesejahteraan anggota.
Apresiasi itu disampaikan bersamaan dengan harapan agar apa yang telah dirintis tidak berhenti ketika masa kepengurusan berakhir.
“Semoga berbagai capaian itu bisa terus dilanjutkan, termasuk terus memperkuat koordinasi provinsi dengan kabupaten/kota,” tandas Firnalis.
Di sinilah keberlanjutan menjadi penting. Sebab, organisasi bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi kepemimpinan, tetapi juga tentang apa yang ditinggalkan untuk mereka yang meneruskan perjalanan.
Program boleh berganti nama. Kepengurusan bisa berganti orang. Namun, kepercayaan yang telah dibangun tidak seharusnya kembali ke titik awal.
Nasir Nurdin mendengarkan berbagai saran dan masukan itu dengan menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar PWI Simeulue. Ia menyebut, periode pertama kepengurusannya diharapkan menjadi fondasi bagi keberlanjutan organisasi apabila kembali dipercaya memimpin PWI Aceh periode 2026–2031.
“Apa yang telah kami lakukan pada periode pertama ini diharapkan menjadi pondasi untuk keberlanjutan. Kita sudah punya arah yang jelas, tidak lagi meraba-raba. Kalau ada yang belum selesai atau ada program baru sesuai bidang, jika itu memang urgen, akan kita prioritaskan,” kata Nasir.
Bagi Nasir, perjalanan organisasi tidak cukup hanya dengan mengenang capaian yang telah diraih. Ada pekerjaan yang belum selesai dan ada kebutuhan anggota yang terus berubah seiring perkembangan zaman.
Pendidikan, misalnya, menjadi bagian penting untuk memperkuat kapasitas wartawan. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan teknologi, wartawan dituntut terus belajar agar tetap mampu menjalankan tugas secara profesional.
Ia juga menyebut penguatan basis data organisasi berbasis digital serta keberlanjutan Koperasi PWI Aceh, Tinta Emas, yang diharapkan menjadi salah satu sumber pendapatan bagi organisasi dan anggota.
Namun, salah satu harapan yang disampaikannya menyentuh sisi paling manusiawi dari kehidupan wartawan: perlindungan bagi mereka dan keluarga.
“Program baru yang diharapkan bisa kita wujudkan ke depan adalah jaminan sosial bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan yang mempertanggungkan wartawan dan keluarganya. Kita sudah diskusikan contoh program ini dengan PWI Sumut,” ujar Nasir.
Di balik setiap berita yang terbit, ada seseorang yang mempertaruhkan waktu dan tenaganya. Ada wartawan yang berangkat ketika orang lain beristirahat, menyusuri jalan ketika cuaca buruk, atau meninggalkan rumah demi mendapatkan informasi yang dibutuhkan masyarakat.
Dan di rumah, ada keluarga yang menunggu.
Mereka menunggu wartawan itu pulang dengan selamat. Menunggu pintu terbuka, suara langkah terdengar, dan cerita tentang hari yang telah dilalui mengisi ruang keluarga. Tidak semua risiko bisa dihindari, tetapi setidaknya perlindungan sosial dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk menghadirkan rasa aman bagi pekerja pers dan orang-orang yang mereka cintai.
Karena itu, gagasan jaminan sosial bukan sekadar tambahan daftar program organisasi. Ia menyentuh kehidupan yang sesungguhnya: tentang masa depan, tanggung jawab, dan keluarga yang menjadi alasan seseorang terus bertahan dalam profesinya.
Selama dua hari di Simeulue, Nasir tidak hanya menerima apresiasi atas perjalanan organisasi yang telah dilalui. Ia juga mendengar harapan dari mereka yang menjalani profesi di ujung wilayah Aceh, tempat laut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus tantangan dalam menjangkau pusat organisasi.
Pertemuan itu memperlihatkan bahwa suara anggota tidak selalu datang dalam bentuk tuntutan keras. Ada yang disampaikan dengan santun, di sela-sela tegukan kopi. Ada yang lahir dari pengalaman bertahun-tahun menjalani profesi dengan penghasilan terbatas. Ada pula yang tumbuh dari keinginan sederhana agar organisasi semakin dekat dan hadir ketika anggotanya membutuhkan.
Di Bumi Ate Fulawan, persaudaraan itu menemukan maknanya. Bahwa sebuah organisasi tidak hanya dinilai dari seberapa banyak program yang terlaksana, tetapi juga dari seberapa jauh anggotanya merasa didengar. Tidak hanya dari hubungan yang terbangun dengan mitra kerja, tetapi juga dari kepedulian terhadap wartawan yang selama ini menjaga nama organisasi di daerah masing-masing.
Laut mungkin memisahkan Simeulue dari daratan Aceh. Ombak mungkin membuat perjalanan panjang terasa melelahkan. Namun, jarak seharusnya tidak menjadi alasan bagi sebuah rumah organisasi untuk terasa jauh dari penghuninya.
Ketika KMP Aceh Hebat 2 membawa Nasir menuju Sinabang, kapal itu menempuh perjalanan berjam-jam di tengah laut. Tetapi sesungguhnya, perjalanan yang lebih panjang adalah perjalanan membangun kepercayaan—menjaga apa yang telah tumbuh, memperbaiki yang masih kurang, dan memastikan bahwa tidak ada anggota yang merasa ditinggalkan hanya karena tinggal jauh dari pusat provinsi.
Di warung kopi Sinabang, harapan-harapan itu telah disampaikan. Tentang kolaborasi yang perlu dirawat, pendidikan yang harus diperkuat, kesejahteraan yang perlu diperjuangkan, hingga sebuah kamar singgah di rumah besar PWI yang kelak dapat meringankan beban wartawan daerah.
Harapan-harapan itu mungkin tidak mengubah luasnya laut. Tidak pula memendekkan waktu penyeberangan yang memakan lebih dari 12 jam. Namun, ia dapat menjadi pengingat bahwa organisasi yang kuat bukanlah organisasi yang hanya berdiri kokoh di pusat, melainkan organisasi yang mampu menjangkau mereka yang berada paling jauh.
Sebab, pada akhirnya, yang membuat sebuah rumah tetap hidup bukanlah megahnya bangunan, melainkan perasaan bahwa setiap orang di dalamnya memiliki tempat.
Dan bagi wartawan Simeulue, rumah itu bernama PWI tempat mereka menitipkan suara, menyampaikan harapan, dan menunggu agar persaudaraan profesi tidak berhenti sebagai kata-kata.
Dari pulau berhati emas itu, pesan tersebut berlayar pulang bersama ingatan: bahwa kepercayaan harus dijaga, kebersamaan mesti dirawat, dan kesejahteraan wartawan tidak boleh dilupakan.
Sebab, sejauh apa pun laut membentang, sebuah rumah semestinya selalu menemukan jalan untuk mendekat kepada penghuninya.[]








