News  

Jejak 800 Tahun Peradaban Aceh Utara, Bupati Ayah Wa Ziarah ke Makam Sultanah Nahrisyah

Affandi Tay

ACEH UTARA – Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil bersama Wakil Bupati Aceh Utara tiba di kompleks makam Sultanah Nahrisyah, Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Minggu (6/9/2026) sekitar pukul 08.00 WIB.

Kedatangan pimpinan daerah tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan hari jadi ke-800 Aceh Utara. Rombongan turut diikuti jajaran Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK), para ulama, tokoh adat serta masyarakat.

Hasil pantauan media ini, setibanya di kompleks makam, Bupati Ismail A. Jalil langsung menuju area makam Sultanah Nahrisyah. Ia kemudian duduk di dekat batu nisan Sultanah Nahrisyah dan memanjatkan doa untuk para syuhada yang dimakamkan di kompleks tersebut.

Suasana berlangsung khidmat. Sejumlah pejabat, ulama, tokoh adat dan masyarakat yang hadir turut mengikuti prosesi doa tersebut.

Setelah doa, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan sejarah singkat di kompleks makam tentang sosok Sultanah Nahrisyah yang disampaikan oleh juru kunci sekaligus perawat makam.

Pemaparan tersebut menjadi bagian dari rangkaian tradisi Meusuraya, yang tidak hanya diisi dengan kegiatan ziarah dan pembersihan makam, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenalkan kembali sejarah kepada masyarakat.

Usai pemaparan sejarah, Bupati bersama Wakil Bupati, jajaran SKPK, ulama, tokoh adat dan masyarakat kemudian mengikuti kegiatan pembersihan kompleks makam.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan sumbangan kepada penjaga makam sebagai bentuk dukungan terhadap upaya perawatan dan pemeliharaan kompleks makam bersejarah tersebut.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan di kompleks makam Sultanah Nahrisyah selesai, rombongan kemudian bertolak menuju makam Sultan Malikussaleh untuk melanjutkan agenda ziarah dalam rangka memperingati hari jadi ke-800 Aceh Utara.

Sejarah sebagai Jati Diri

Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil atau yang akrab disapa Ayah Wa menegaskan, kegiatan Meusuraya tidak sekadar menjadi agenda seremonial dalam peringatan hari jadi Aceh Utara.

Menurutnya, ziarah dan pembersihan makam bersejarah merupakan bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus upaya mengingatkan masyarakat terhadap sejarah daerah.

“Sejarah adalah jati diri bangsa. Apabila lupa pada sejarah, maka hilanglah jati diri tersebut,” tegas Ayah Wa.

Ia mengatakan Pemkab Aceh Utara berkomitmen membenahi situs-situs bersejarah yang ada di daerah tersebut secara bertahap dan berkelanjutan.

Pemerintah daerah juga berencana memperkuat sejarah lokal melalui dunia pendidikan dengan melakukan koreksi dan penyusunan kembali materi sejarah Aceh Utara untuk diupayakan masuk dalam kurikulum sekolah.

Langkah tersebut diharapkan dapat membuat generasi muda lebih mengenal sejarah daerahnya sekaligus memiliki kepedulian terhadap situs-situs bersejarah yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Aceh Utara.

Peringatan hari jadi ke-800 Aceh Utara diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama dalam menjaga warisan sejarah, adat dan peradaban yang telah berlangsung selama berabad-abad.