News  

Mengenang 598 Tahun Wafat Ratu Nahrisyah, Jejak Kepemimpinan Perempuan dalam Peradaban Islam Samudra Pasai

Affandi Tay

ACEH UTARA – Jejak kepemimpinan Ratu Nahrisyah kembali dikenang di tengah momentum peringatan 800 tahun Kabupaten Aceh Utara. Sosok perempuan yang pernah memimpin Samudra Pasai itu menjadi bagian penting dari sejarah panjang tumbuhnya peradaban Islam, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan di kawasan pesisir utara Aceh.

Peringatan tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali peran Ratu Nahrisyah dalam perjalanan Samudra Pasai, sekaligus mengingatkan generasi masa kini bahwa Aceh Utara memiliki warisan sejarah Islam yang tidak hanya berupa situs dan makam kuno, tetapi juga nilai-nilai peradaban yang berkembang berabad-abad lalu.

Ratu Nahrisyah atau Sultanah Nahrisyah merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Samudra Pasai. Ia dikenal sebagai penguasa perempuan yang memimpin kerajaan Islam tersebut pada awal abad ke-15 hingga wafat pada 1428 Masehi.

Keberadaan makamnya di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, menjadi salah satu bukti penting perjalanan sejarah Islam di wilayah tersebut. Museum Nasional Indonesia mencatat replika nisan Sultanah Nahrisyah memuat aksara Arab bergaya Kufi dan mencantumkan tahun 831 Hijriah atau 1428 Masehi.

Dokumen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga mencatat makam Sultanah Nahrisyah sebagai salah satu peninggalan penting kompleks makam Samudera Pasai. Inskripsi pada makam menyebut Sultanah Nahrisyah wafat pada 17 Zulhijjah 831 Hijriah atau 1428 Masehi.

Dengan demikian, pada 2026 telah berlalu sekitar 598 tahun sejak wafatnya Ratu Nahrisyah. Angka tersebut bukan sekadar hitungan waktu, melainkan pengingat bahwa kepemimpinan dan peradaban yang pernah tumbuh di tanah Pase meninggalkan jejak yang masih dapat ditemukan hingga hari ini.

Simbol Kepemimpinan Perempuan

Ratu Nahrisyah menempati posisi istimewa dalam sejarah Samudra Pasai karena tampil sebagai perempuan di pucuk kekuasaan kerajaan Islam pada zamannya.

Kepemimpinannya menjadi gambaran bahwa perempuan memiliki ruang penting dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat Samudra Pasai. Sejumlah sumber sejarah dan kajian mengenai Sultanah Nahrisyah menggambarkannya sebagai sosok pemimpin yang arif dan memiliki peran dalam menjaga kejayaan kerajaan serta perkembangan Islam di kawasan tersebut.

Peninggalan makamnya juga memperlihatkan tingginya capaian budaya dan seni masyarakat Samudra Pasai. Batu nisannya dihiasi kaligrafi Arab serta ayat-ayat Al-Qur’an, antara lain bagian dari Surah Al-Baqarah, Ali Imran dan Ayat Kursi.

Bagi masyarakat Aceh Utara, peninggalan tersebut bukan hanya artefak masa lalu. Ia merupakan sumber pengetahuan mengenai bagaimana Islam, perdagangan, seni, bahasa, dan kebudayaan berkembang dalam jaringan peradaban Samudra Pasai.

Samudra Pasai dan Warisan Peradaban Islam

Samudra Pasai dikenal sebagai salah satu kerajaan Islam penting di kawasan Asia Tenggara. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka menjadikan kerajaan tersebut memiliki hubungan luas dengan berbagai kawasan di dunia.

Warisan itu masih dapat ditelusuri melalui kompleks makam para penguasa, batu nisan berkaligrafi Arab, situs sejarah, serta berbagai peninggalan arkeologis yang tersebar di kawasan Aceh Utara.

Karena itu, peringatan sejarah Samudra Pasai seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Momentum tersebut dapat menjadi sarana memperkuat kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, mengenai pentingnya menjaga situs sejarah dan cagar budaya sebagai sumber pengetahuan sekaligus identitas daerah.

Momentum 800 Tahun Aceh Utara

Pada September 2026, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menggelar rangkaian peringatan Milad ke-800 yang ditempatkan dalam konteks sejarah dan warisan Samudra Pasai. Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 13 September 2026.

Peringatan tersebut menjadi momentum untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap perjalanan panjang kawasan Pase sebagai salah satu pusat perkembangan Islam dan perdagangan di Nusantara.

Namun, secara historis, angka 800 tahun Hari Jadi Aceh Utara memiliki dasar penetapan tersendiri melalui Qanun Kabupaten Aceh Utara Nomor 10 Tahun 2017. Angka tersebut dikaitkan dengan penetapan 17 Zulhijjah 622 Hijriah atau 7 September 1226 Masehi sebagai Hari Jadi Kabupaten Aceh Utara. Sejumlah kajian dan pemberitaan terbaru mempertanyakan kembali hubungan penetapan tersebut dengan tahun wafat Ratu Nahrisyah, karena inskripsi pada makam justru mencantumkan 831 Hijriah atau 1428 Masehi.

Perbedaan perspektif tersebut menunjukkan pentingnya penelitian sejarah dan arkeologi yang terus dilakukan secara terbuka dan berbasis sumber primer, tanpa mengurangi penghormatan terhadap warisan peradaban Samudra Pasai.

Kini, hampir enam abad setelah wafatnya Ratu Nahrisyah, jejak kepemimpinannya masih melekat di tanah Pase. Makam, nisan, situs dan peninggalan Samudra Pasai menjadi pengingat bahwa Aceh Utara memiliki sejarah panjang dalam perkembangan peradaban Islam di Nusantara.

Mengenang Ratu Nahrisyah pada momentum peringatan 800 tahun Aceh Utara pada akhirnya bukan hanya mengenang seorang ratu. Lebih dari itu, menjadi upaya merawat ingatan tentang sebuah peradaban yang pernah tumbuh, berkembang dan berinteraksi dengan dunia luas dari kawasan Samudra Pasai.

Warisan tersebut menjadi tanggung jawab generasi sekarang untuk dijaga, dikaji dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari identitas sejarah Aceh Utara.