Dentuman rapai telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh. Alat musik pukul ini tidak sekadar menghadirkan irama dalam sebuah pertunjukan, tetapi juga mengiringi perjalanan tradisi, syiar Islam, pesta rakyat, hingga berbagai perhelatan adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di kalangan masyarakat Aceh, dikenal sebuah ungkapan, “Peunajoeh timphan, piasan rapai.” Jika timphan menjadi hidangan istimewa dalam sebuah hajatan, maka rapai menjadi pelengkap yang menghidupkan suasana sekaligus mempererat kebersamaan.
Rapai dibuat dari baloeh, yaitu badan alat musik yang dipahat dari kayu keras seperti tualang atau merbau. Permukaannya dilapisi kulit ternak yang direntangkan untuk menghasilkan bunyi khas. Pada sebagian jenis rapai ditambahkan prik, yaitu lempengan tembaga di sisi baloeh yang menghasilkan suara “kcrik” sebagai pelengkap irama.
Sebagian besar rapai menggunakan kulit kambing sebagai membran. Sementara Rapai Pase yang berukuran lebih besar menggunakan kulit sapi agar menghasilkan resonansi yang lebih kuat.
Perkembangan rapai di Aceh melahirkan beragam jenis yang mengikuti kekhasan daerah masing-masing. Di antaranya Rapai Uroeh, Rapai Tuha yang berkembang di wilayah Nagan Raya, Rapai Pulot, Rapai Sanggar, serta Rapai Pase yang dikenal memiliki ukuran paling besar.
Perbedaan setiap jenis rapai terlihat dari ukurannya. Rapai Uroeh memiliki diameter sekitar 19 hingga 19,5 inci. Rapai Pulot dan Rapai Sanggar berdiameter sekitar 12 hingga 13 inci. Sementara Rapai Pase mencapai diameter sekitar 26 hingga 27 inci dengan berat hingga 30 kilogram. Karena ukurannya, Rapai Pase dimainkan dalam posisi digantung sehingga dikenal sebagai rapai gantung.
Di balik dentuman yang terdengar kuat, keindahan rapai tidak diukur dari kerasnya suara, melainkan dari keselarasan irama yang dihasilkan para pemain.
Hal tersebut disampaikan Ispikar (50), pegiat Rapai Uroeh dari Grup Keutapang Payong, Gampong Blang Weu Panjoe, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Selama hampir 15 tahun, ia aktif melestarikan kesenian tersebut.
“Keindahan suara rapai terletak pada aloeun atau alunannya, bukan karena suaranya besar saja,” ujar Ispikar.
Menurutnya, permainan Rapai Uroeh menuntut kekompakan tinggi. Satu kelompok sedikitnya terdiri atas 28 orang. Pertunjukan dipimpin seorang kali rapai yang duduk di bagian tengah, didampingi lima orang apet di sisi kanan dan kiri sebagai penyangga ritme sebelum diikuti seluruh pemain.
“Kalau satu orang saja terlambat memukul, iramanya langsung terasa berubah. Karena itu pemain harus saling mendengar dan saling mengikuti,” katanya.
Dalam satu pagelaran Rapai Uroeh atau turnamen, terdapat sedikitnya tujuh irama yang dimainkan, yaitu Pruk, Gum Saboh, Ombak Meu Alon, Putroe Malem, Gum Lhee, Creng Panyang, dan Dike.
Irama Pruk menjadi pembuka sekaligus penutup pertunjukan. Sementara pada irama Dike, para pemain melantunkan selawat dan puji-pujian dalam bahasa Aceh sehingga pertunjukan tidak hanya menghadirkan nilai seni, tetapi juga memuat pesan religius.
Kualitas bunyi rapai dipengaruhi oleh kemampuan pemain, kualitas baloeh, serta kulit yang digunakan. Untuk menjaga kekencangan kulit, dipasang seudak berupa rotan yang ukurannya disesuaikan agar suara tetap nyaring dan seimbang.
Hingga kini, tradisi Rapai Uroeh masih lazim dimainkan pada malam hari hingga menjelang Subuh. Selain hadir dalam perlombaan dan pagelaran budaya, rapai juga diundang untuk memeriahkan berbagai kegiatan masyarakat.
Di tengah pertunjukan, masyarakat tetap mempertahankan tradisi menyajikan bulukat u atau teukeurabee, yaitu ketan hangat yang disantap bersama secangkir kopi.
“Bahkan dari zaman dahulu, kalau ada uroeh rapai selalu disediakan bulukat. Mudah dibuat, tidak merepotkan, dan biayanya juga murah,” tutur Ispikar.
Dalam banyak pagelaran, rapai hampir selalu tampil berdampingan dengan atraksi debus. Irama rapai membangun ritme pertunjukan, sedangkan debus melengkapi sajian budaya yang telah lama dikenal masyarakat Aceh.
Tradisi tersebut masih terlihat dalam pagelaran Rapai Uroeh di Gampong Blang Crum, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Minggu (2/8/2026) dini hari. Dentuman rapai mengiringi pertunjukan hingga menjelang azan Subuh, sementara para penonton tetap bertahan menyaksikan setiap irama yang dimainkan. Dengan cara seperti inilah rapai terus hidup, bukan hanya sebagai alat musik tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh.








