Aceh Utara – Akademisi Teknik Industri Universitas Malikussaleh sekaligus Ketua Yayasan Transformasi Digital dan Energy Terbarukan, Syarifuddin, S.T., M.T., IPM., menjadi mentor bisnis bagi 60 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terdampak bencana di Kabupaten Aceh Utara.
Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Aceh melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah tersebut berlangsung di Ghataf Coffe, Kecamatan Syamtalira Aron, pada 16 hingga 17 September 2026.
Kegiatan Mentor Bisnis bagi UMKM Terdampak Bencana ini dibuka oleh Kasubbag Tata Usaha UPTD PLUT-KUMKM Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Aceh, Arief Budiman.
Dalam kegiatan tersebut, Syarifuddin memfokuskan materi pada pengembangan kemasan produk sebagai salah satu strategi memperkuat daya saing usaha setelah terdampak bencana.
Ia membahas fungsi kemasan dalam melindungi produk, menjaga kualitas, memperkuat identitas merek, hingga menambah daya tarik produk di pasar.
Syarifuddin memaparkan enam manfaat utama kemasan, yakni melindungi produk, menjaga kebersihan dan keamanan, menyampaikan informasi, memperkuat daya tarik dan nilai jual, mempermudah penanganan, serta mencegah penyalahgunaan produk.
Materi tersebut juga mencakup pemilihan bahan kemasan sesuai karakteristik produk, mulai dari kertas, karton, plastik, kaca, logam, kemasan fleksibel, kayu, hingga bahan ramah lingkungan.
Menurut materi yang dipaparkannya, pemilihan bahan kemasan perlu mempertimbangkan keamanan produk, ketahanan selama distribusi, biaya produksi, dan kebutuhan konsumen.
Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai tujuh tahapan perancangan kemasan. Proses tersebut dimulai dari memahami karakteristik produk, mengenali target konsumen, menentukan bahan, menyusun konsep desain, merancang prototipe, melakukan uji coba dan evaluasi, hingga produksi akhir.
Dalam pembahasan desain, Syarifuddin menyoroti perlunya pelaku UMKM memperhatikan identitas merek, tampilan visual, serta informasi produk yang sesuai dengan karakteristik barang yang dipasarkan.
Materi pengembangan kemasan tersebut menjadi bagian dari pendampingan bisnis Pemerintah Aceh untuk memperkuat kapasitas, kualitas, dan daya saing pelaku UMKM terdampak bencana.
Usai kegiatan, Syarifuddin menekankan perlunya pelaku usaha menyesuaikan kemasan dengan karakteristik produk dan kebutuhan pasar.
“Pengembangan kemasan perlu memperhatikan fungsi perlindungan, keamanan, identitas produk, dan kebutuhan konsumen. Pelaku UMKM juga perlu mempertimbangkan biaya agar kemasan yang dipilih sesuai dengan kemampuan produksi dan strategi pemasaran,” pungkasnya.








