Indeks
News  

Video Kerumunan di Depan Panggung Beredar, Bupati Aceh Utara Jelaskan Penghentian Apache

ACEH UTARA – Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M. atau yang akrab disapa Ayah Wa, angkat bicara terkait beredarnya sejumlah video di media sosial yang memperlihatkan kerumunan muda-mudi di depan panggung utama saat penampilan grup musik Aceh, Apache, pada malam penutupan rangkaian Milad ke-800 Samudera Pasai, Minggu (13/9/2026).

Video tersebut memicu beragam tanggapan di tengah masyarakat. Sejumlah warga menilai kejadian itu tidak sejalan dengan tema kegiatan, yakni “Tajaga Adat, Tapeukong Syariat”, terutama karena terlihat adanya percampuran penonton laki-laki dan perempuan di area depan panggung.

Berdasarkan pantauan media ini di lokasi pada Minggu malam sekitar pukul 23.38 WIB, saat penampilan Apache memasuki bagian akhir, terlihat pergerakan massa dari sejumlah sisi menuju area depan panggung utama.

Dari tenda utama yang berada di belakang posisi Bupati, terlihat Ayah Wa berdiri dan berupaya mengarahkan massa agar tetap berada di tempat. Namun, beberapa saat kemudian, pagar pembatas di sisi kanan area tersebut roboh sehingga pergerakan massa semakin sulit dikendalikan.

Dalam situasi tersebut, Ayah Wa terlihat mengangkat kedua tangannya dengan posisi bersilang ke arah panggung utama. Gerakan tersebut terlihat bersamaan dengan situasi kerumunan yang semakin mendekati panggung.

Dari pantauan visual di lokasi, pertunjukan kemudian dihentikan. Namun, maksud dari gerakan tangan Bupati tersebut tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pengamatan visual.

Bupati Jelaskan Alasan Penghentian Pertunjukan

Dalam video berdurasi sekitar 60 detik yang beredar di media sosial, Ayah Wa memberikan penjelasan mengenai penghentian penampilan musik pada malam penutupan tersebut.

Menurutnya, penghentian dilakukan setelah pagar pembatas antara area penonton laki-laki dan perempuan roboh sehingga pemisahan yang telah disiapkan panitia tidak lagi dapat dipertahankan.

“Hanya dalam hitungan menit, pagar pembatas antara laki-laki dan perempuan jebol. Antusiasme masyarakat yang luar biasa dan rasa dahaga akan hiburan membuat massa tidak tertahankan,” ujar Ayah Wa dalam video tersebut.

Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat pemerintah daerah dan penyelenggara harus mengambil langkah untuk menjaga ketertiban serta memastikan pelaksanaan kegiatan tetap memperhatikan ketentuan syariat yang berlaku di Aceh.

“Penghentian nyanyian atau pertunjukan malam terakhir ini terpaksa dilakukan demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Bupati juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Aceh Utara atas penghentian pertunjukan tersebut.

Menurutnya, pemerintah daerah bersama seluruh pihak terkait telah berupaya menyelenggarakan rangkaian kegiatan Milad ke-800 Samudera Pasai sejak hari pertama hingga malam penutupan.

“Kami memohon maaf kepada seluruh masyarakat Aceh Utara. Sejak hari pertama hingga hari terakhir, pemerintah daerah telah bekerja keras menyelenggarakan kegiatan ini untuk masyarakat. Kami berharap hal ini tidak digoreng atau di-framing secara negatif,” ujar Ayah Wa.

Ia kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga persatuan, ketertiban, dan kedamaian di Aceh Utara.

Insiden pada malam penutupan tersebut menjadi perhatian publik setelah sejumlah rekaman video menyebar di media sosial. Pemerintah daerah sebelumnya telah mengusung tema “Tajaga Adat, Tapeukong Syariat” dalam rangkaian peringatan Milad ke-800 yang dikaitkan dengan sejarah Samudera Pasai.

Exit mobile version