ACEH UTARA – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memastikan persiapan penutupan rangkaian peringatan 800 Tahun Samudera Pasai telah rampung. Acara puncak penutupan dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 13 September 2026, di Lapangan Kantor Bupati Aceh Utara.
Hal tersebut disampaikan Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang akrab disapa Ayah Wa, saat ditemui di Kantor Bupati Aceh Utara, Sabtu (12/9/2026).
Ismail A. Jalil mengatakan, rangkaian kegiatan pada hari terakhir akan diawali dengan upacara penurunan bendera pada sore hari. Setelah itu, acara penutupan akan dilaksanakan pada malam harinya di lokasi yang sama.
“Alhamdulillah persiapan sudah matang. Sore harinya kita melaksanakan upacara penurunan bendera. Rundown-nya seperti biasa, ada pengibaran bendera pada upacara pagi dan penurunan bendera di sore hari. Kemudian pada malam harinya langsung kita laksanakan acara penutupan,” ujar Ismail A. Jalil.
Ia mengajak masyarakat untuk hadir dan ikut meramaikan malam penutupan rangkaian peringatan tersebut.
Daftar Isi
Bendera Aceh Utara Akan Diatur melalui Qanun
Terkait penggunaan dan pengibaran bendera khas Aceh Utara, Ismail A. Jalil mengatakan pengaturannya akan dibahas lebih lanjut melalui qanun.
Menurutnya, bendera tersebut nantinya direncanakan dikibarkan pada momentum tertentu, terutama hari-hari besar.
“Mungkin nanti kita tetapkan dengan Qanun, itu akan dikibarkan di hari-hari besar. Untuk sementara setahun sekali, dan nanti akan kita musyawarahkan kembali untuk langkah selanjutnya,” katanya.
Penggunaan Bahasa Aceh untuk Mengangkat Nuansa Sejarah
Ismail A. Jalil juga menanggapi isu mengenai penggunaan bahasa Aceh dalam pelaksanaan upacara peringatan 800 Tahun Samudera Pasai.
Ia mengatakan penggunaan bahasa Aceh dalam rangkaian acara tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan nuansa sejarah Kesultanan Samudera Pasai.
“Tidak ada pro-kontra. Acara yang kita gelar ini memperingati adat 800 tahun yang lalu. Pada masa itu belum ada bahasa seperti sekarang, jadi semua menggunakan bahasa Aceh. Kita ingin memperlihatkan sejarah Samudera Pasai sebagaimana mestinya, maka kita laksanakan dengan bahasa Aceh,” ujar Ismail A. Jalil.
Ia berharap peringatan 800 Tahun Samudera Pasai tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, momentum tersebut harus menjadi sarana untuk mengenang sejarah dan membangun semangat generasi muda dalam memahami kejayaan Samudera Pasai.
“Harapan kita adalah untuk mengenang sejarah kejayaan Samudera Pasai. Mari para pemuda dan pemudi menyatu dan mengikuti jejak semangat Samudera Pasai, bagaimana negeri ini bisa mencapai kejayaannya di masa lalu,” pungkasnya.
