Oleh: Muhammad Munir An-Nabawi, M.Psi
Dosen BKI UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Ada luka yang tidak terlihat ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran ayah. Namun, jangan biarkan luka itu menentukan masa depanmu. Jadikan luka sebagai alasan untuk menjadi lebih kuat, bukan alasan untuk berhenti.
Jika hari ini kamu merasa kehilangan sosok ayah, menangislah jika perlu. Setelah itu, bangkitlah. Ceritakan semua kesedihanmu kepada Allah, karena Dia Maha Mengetahui apa yang tidak mampu kamu ceritakan kepada siapa pun.
Fenomena fatherless atau ketidakhadiran sosok ayah dalam pengasuhan anak menjadi persoalan serius bagi ketahanan keluarga. Krisis ini bukan hanya tentang ayah yang tidak berada di rumah, tetapi juga tentang hilangnya keterikatan emosional dan keteladanan.
Seorang ayah mungkin hadir secara fisik, tetapi belum tentu hadir secara emosional. Kesibukan pekerjaan, tuntutan ekonomi, dan kurangnya kesadaran tentang pengasuhan dapat membuat anak merasa sendirian meskipun ayah berada di dekatnya.
Di Aceh, persoalan ini juga patut menjadi bahan renungan. Tradisi meukupi kupi (berkumpul di warung kopi) merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat, tetapi jangan sampai waktu bersama keluarga justru habis karena terlalu lama berada di luar rumah.
Anak membutuhkan lebih dari sekadar nafkah. Mereka membutuhkan ayah yang mau mendengar cerita, menjawab pertanyaan, memberikan pelukan, mengajarkan tanggung jawab, serta hadir ketika anak sedang menghadapi persoalan.
Dampak ketidakhadiran ayah dapat dirasakan dalam proses tumbuh kembang anak. Krisis kelekatan dapat memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, pengendalian emosi, dan cara anak memandang dirinya sendiri.
Dalam kondisi seperti ini, Islam telah memberikan teladan yang sangat kuat melalui Rasulullah SAW. Beliau bukan hanya seorang pemimpin umat, tetapi juga sosok yang menunjukkan kelembutan, kasih sayang, dan perhatian kepada anak-anak.
Rasulullah SAW tidak merasa rendah hati untuk bermain dan bercanda dengan anak-anak. Beliau memangku, mencium, dan menyayangi mereka. Bahkan, beliau pernah memperlama sujud karena cucunya berada di atas punggung beliau.
Keteladanan tersebut menunjukkan bahwa kasih sayang bukan tanda kelemahan seorang laki-laki. Justru, kelembutan kepada anak merupakan bagian dari kemuliaan akhlak dan kekuatan kepemimpinan dalam keluarga.
Al-Qur’an juga menghadirkan sejumlah teladan pengasuhan melalui figur ayah. Nasihat Luqman kepada anaknya, dialog Nabi Ibrahim dengan Ismail, serta kisah Nabi Ya’qub bersama anak-anaknya menunjukkan pentingnya komunikasi dan pendidikan dalam keluarga.
Karena itu, peran ayah tidak seharusnya berhenti pada mencari nafkah. Ayah juga memiliki tanggung jawab membimbing akidah, akhlak, mental, dan masa depan anak melalui nasihat serta contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Meneladani Rasulullah SAW berarti mengembalikan makna kehadiran ayah di dalam rumah. Ayah perlu menjadi tempat anak merasa aman untuk bercerita, bertanya, menangis, bahkan mengakui kesalahan tanpa takut kehilangan kasih sayang.
Krisis fatherless tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyalahkan ayah. Persoalan ini membutuhkan kesadaran bersama antara keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial agar pengasuhan anak kembali menjadi prioritas.
Sudah saatnya para ayah mengevaluasi kembali waktunya. Mengurangi:meukupi (nongkrong di warung kopi)bukan berarti meninggalkan kehidupan sosial, tetapi memberikan ruang yang lebih luas untuk mendampingi anak dan membangun kedekatan yang mungkin tidak dapat dibeli dengan materi.
Sebab, anak mungkin tidak selalu mengingat berapa banyak uang yang diberikan ayahnya. Namun, mereka akan mengingat siapa yang mendengarkan tangisnya, siapa yang menggenggam tangannya, dan siapa yang hadir ketika mereka membutuhkan.
Pada akhirnya, meneladani Rasulullah SAW berarti menghadirkan kembali kasih sayang di dalam rumah. Jangan biarkan anak mencari sosok ayah di luar rumah, ketika seharusnya rumah menjadi tempat pertama mereka menemukan cinta, keteladanan, dan rasa aman.
