Cunda Plaza bukan sekadar bangunan tua di Kota Lhokseumawe. Ia adalah peninggalan sebuah era ketika kota ini pernah berada di puncak kejayaan ekonomi.
Namun hingga kini, satu pertanyaan besar tetap menggantung: siapa sebenarnya pemilik modal di balik Cunda Plaza?
Cunda Plaza lahir pada awal 1990-an, di masa Lhokseumawe menikmati limpahan pertumbuhan ekonomi dari industri migas. Saat itu, kota ini menjelma pusat perputaran uang terbesar di Aceh. Di tengah optimisme pembangunan, berdirilah sebuah pusat perbelanjaan modern yang belum pernah ada sebelumnya.
Gedung bertingkat itu diberi nama Cunda Plaza. Ia menjadi mall pertama dan terbesar di Aceh pada masanya. Kehadirannya menandai perubahan wajah kota, dari kota industri menjadi kota dengan gaya hidup modern.
Toko-toko bermunculan, hiburan keluarga tersedia, dan masyarakat mulai mengenal konsep pusat perbelanjaan terpadu.
Pada masa kejayaannya, Cunda Plaza menjadi pusat aktivitas warga. Bukan hanya tempat belanja, tetapi ruang sosial.
Di sinilah keluarga berkumpul, anak-anak bermain, dan generasi muda menikmati hiburan. Cunda Plaza menjadi simbol status, sekaligus kebanggaan masyarakat Lhokseumawe.
Namun di balik gemerlap itu, identitas pemilik modal Cunda Plaza nyaris tak pernah terdengar di ruang publik. Tidak ada nama korporasi besar yang menonjol. Tidak ada figur pengusaha yang secara terbuka dikaitkan dengan gedung ini. Sejak awal berdiri, Cunda Plaza dikenal dikelola oleh pihak swasta, tetapi detail kepemilikannya tidak pernah diumumkan secara luas.
Memasuki akhir 1990-an, situasi berubah drastis. Krisis ekonomi nasional melanda Indonesia. Di Aceh, kondisi keamanan memburuk akibat konflik bersenjata. Aktivitas ekonomi terhenti, investasi melemah, dan pusat-pusat bisnis mulai runtuh.
Cunda Plaza berada di tengah pusaran itu. Kerusuhan dan penjarahan terjadi. Aktivitas perdagangan lumpuh. Toko-toko tutup satu per satu. Hingga akhirnya, Cunda Plaza berhenti beroperasi dan ditinggalkan.
Sejak saat itu, gedung megah tersebut berdiri tanpa fungsi. Tidak ada upaya pemulihan yang signifikan. Tidak ada kejelasan arah pengelolaan. Dan lagi-lagi, publik bertanya: di mana pemilik modalnya?
Hingga kini, tidak ada pernyataan resmi yang menjelaskan siapa pemilik sesungguhnya Cunda Plaza, mengapa gedung ini dibiarkan terbengkalai, dan mengapa tidak pernah direvitalisasi. Dalam arsip media dan ingatan kolektif warga, Cunda Plaza hanya disebut sebagai bangunan milik investor swasta yang kemudian menghilang bersama runtuhnya kejayaan ekonomi kota.
Ketidakjelasan itulah yang menjadikan Cunda Plaza bukan hanya bangunan mati, tetapi misteri sejarah kota. Ia menjadi simbol bukan hanya tentang kejatuhan ekonomi, tetapi juga tentang hilangnya tanggung jawab kepemilikan dalam pusaran krisis.
Bagi generasi hari ini, Cunda Plaza mungkin hanya tampak sebagai gedung kosong. Namun bagi dunia jurnalistik, ia adalah bahan liputan yang belum selesai, tentang sebuah aset besar, investasi besar, dan pertanyaan besar yang tak pernah terjawab.
Cunda Plaza telah runtuh secara fungsi, tetapi misterinya masih berdiri. Dan selama sejarahnya belum sepenuhnya terungkap, gedung ini akan terus menjadi saksi bisu sebuah masa ketika Lhokseumawe pernah berjaya, lalu terdiam dalam sunyi.
