Indeks

Mengapa Banyak Orang Aceh Hijrah ke Malaya? Jejak Sejarah di Balik Keluarga P. Ramlee

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Aceh berada dalam kondisi yang sangat sulit. Perang panjang melawan Belanda membuat kehidupan masyarakat terganggu. Banyak kampung rusak, ekonomi lumpuh, dan rasa aman sulit didapat. Dalam situasi seperti itu, banyak orang Aceh memilih untuk pergi sementara atau menetap ke daerah lain demi menyelamatkan keluarga dan masa depan anak-anak mereka.

Salah satu tujuan utama hijrah orang Aceh saat itu adalah Malaya, terutama wilayah Penang dan Kedah. Selain jaraknya dekat, Malaya memiliki budaya dan agama yang sama, yaitu Melayu dan Islam. Di sana juga tersedia peluang berdagang, bekerja, dan menuntut ilmu.

Banyak orang Aceh yang hijrah ke Malaya bukan untuk melupakan kampung halaman, tetapi untuk bertahan hidup. Identitas Aceh tetap dijaga. Gelar seperti Teuku masih digunakan, adat tetap dipertahankan, dan nilai agama tetap menjadi pegangan.

Dalam arus hijrah inilah keluarga Teuku Nyak Puteh, ayah dari P. Ramlee, berada di Malaya jauh sebelum P. Ramlee lahir. Artinya, P. Ramlee tidak pindah dari Aceh ke Malaysia, melainkan lahir dan besar di Malaya sebagai anak dari keluarga Aceh perantauan.

Dari tanah perantauan tersebut lahir generasi baru keturunan Aceh yang kemudian memberi sumbangan besar bagi dunia Melayu. Salah satunya adalah P. Ramlee, yang kelak dikenal sebagai seniman besar di Malaysia. Keberhasilannya tidak lepas dari keberanian generasi orang tuanya yang lebih dulu hijrah demi kehidupan yang lebih baik.

Kisah hijrah orang Aceh ke Malaya adalah kisah tentang keteguhan, perjuangan, dan harapan. Dari langkah berat meninggalkan tanah kelahiran, lahir cerita-cerita besar yang dikenang hingga hari ini.

Exit mobile version