Aceh Utara – Deru mesin tua itu terdengar bersahut-sahutan, memecah keheningan Pantai Kuala Meuraksa, Kecamatan Blang Mangat. Setelah tuntas membahas agenda besar Anniversary SJ-410 SUMUT-ACEH ke-6 pada Minggu (13/6/2026) siang, kami yang tergabung dalam komunitas otomotif SJ-410 Chapter Lhokseumawe tidak langsung pulang. Alih-alih membubarkan diri, kami justru memutar kunci kontak, bersiap memulai sebuah petualangan kecil yang membawa kami melintasi ruang dan waktu.
Satu per satu mobil legendaris kami bergerak dinamis keluar dari kawasan pantai. Beriringan dalam satu komando, kami menelusuri jalanan desa hingga melintasi Jamboe Timu, perlahan meninggalkan hiruk-pikuk Kota Lhokseumawe di belakang. Tujuan kami hari itu adalah mengunjungi deretan situs bersejarah di Kabupaten Aceh Utara.
Perjalanan ini segera berubah menjadi sebuah sinema visual yang memanjakan mata. Saat iringan mobil melintasi Desa Wisata Lancok di Kecamatan Syamtalira Bayu, hamparan tambak yang luas dan aktivitas para nelayan lokal menyuguhkan potret kehidupan pesisir yang asri. Pemandangan ini menjadi kenangan tersendiri bagi kami, sebuah jeda yang menenangkan dari rutinitas harian.
Raungan mesin-mesin tangguh SJ-410 terus terdengar stabil saat rombongan kami memasuki Kecamatan Samudera. Jalur alternatif Gampong membawa kami membelah hamparan sawah hijau yang membentang luas. Di sana, para petani tampak sibuk menanam padi, menyajikan pemandangan hijau yang menyejukkan sejauh mata memandang.
Kehadiran rombongan jip klasik ini tak pelak menarik perhatian warga lokal. Di sepanjang jalan desa, anak-anak kecil dengan riang melambaikan tangan, menyambut hangat iring-iringan kendaraan kami. Beberapa di antaranya bahkan tampak antusias memegang telepon genggam, merekam dan mengabadikan momen langka saat deretan mobil tangguh itu melintas di depan rumah mereka.
Tujuan pertama akhirnya tercapai saat kami tiba di Monumen Islam Samudera Pasai yang terletak di Gampong Beuringen. Kendaraan-kendaraan klasik ini langsung kami jejer rapi di pelataran. Kami segera turun dari kabin, mengambil ponsel dan kamera untuk mendokumentasikan momen tersebut dengan latar belakang struktur monumen yang menjulang tinggi.
Ada rasa kagum sekaligus haru saat menatap bangunan megah tersebut. Monumen yang menyimpan lika-liku cerita panjang dalam pembangunannya itu tampak berdiri kokoh, namun menyisakan kesan terbengkalai. Di balik dinding-dindingnya yang sunyi, monumen ini sebenarnya dirancang sebagai simbol untuk mengenang kejayaan kerajaan Islam pertama di Nusantara.
Puas mengamati kemegahan monumen di Gampong Beuringen, perjalanan kami lanjutkan menuju Gampong Kuta Krueng. Di desa inilah terletak situs bersejarah yang sangat sakral: Kompleks Makam Sultanah Malikah Nahrasyiyah.
Sultanah Nahrasyiyah adalah salah satu tokoh perempuan paling agung dalam sejarah Aceh, yang memimpin Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-15 (sekitar tahun 1406 – 1428 M). Beliau dikenal sebagai ratu yang bijaksana, anggun, dan berhasil membawa kerajaan mencapai puncak kemakmuran ekonomi serta syiar Islam yang kuat. Makam beliau sendiri merupakan sebuah mahakarya arsitektur yang luar biasa. Terbuat dari batu pualam (marmer) utuh yang indah dengan ukiran kaligrafi yang sangat halus, makam ini memuat ayat Kursi, Surat Yasin, serta catatan sejarah mengenai kepemimpinan beliau.
Kedatangan kami di situs suci ini disambut hangat oleh warga sekitar. Tak lama berselang, muncul Rasyidin, salah seorang juru pelihara setempat yang ditugaskan resmi oleh dinas terkait di Provinsi Aceh untuk menjaga dan merawat situs berharga tersebut. Hari itu Rasyidin berjaga sendiri, sebab rekannya, Ramlan, kebetulan sedang berhalangan hadir.
Dari tutur kata Rasyidin yang santun, kami mendapatkan banyak asupan cerita sejarah yang berharga. Sebagai putra daerah yang mengabdi pada kelestarian situs tersebut, Rasyidin dengan gamblang menjabarkan detail sejarah, makna ukiran nisan, hingga kisah kejayaan masa lalu yang sempat terkubur zaman.
Sekretaris SJ-410 SUMUT-ACEH, Zulkarnain Ali, yang ikut langsung dalam rombongan road trip SJ 410 Lhokseumawe ini, tampak terpukau saat mendengarkan penjelasan dari sang juru pelihara. Di sela-sela kekagumannya menatap nisan marmer sang Ratu, ia mengungkapkan rasa bangganya terhadap warisan sejarah tanah Aceh.
“Perjalanan hari ini luar biasa. Kita tidak hanya sekadar menyalurkan hobi otomotif atau menguji ketangguhan mesin jip tua kita di jalanan gampong, tapi juga berziarah ke akar sejarah. Sultanah Nahrasyiyah adalah bukti bahwa Aceh pernah memiliki peradaban yang sangat tinggi dan dipimpin oleh seorang perempuan yang luar biasa bijaksana. Keindahan makam marmer ini harus terus kita jaga dan wariskan ceritanya kepada generasi muda,” ujar Zulkarnain di lokasi situs.
Sebenarnya, gairah petualangan kami hari itu masih membara. Rombongan sempat berencana melanjutkan road trip menuju Kompleks Makam Sultan Malikussaleh serta Museum Islam Samudera Pasai yang letaknya tak terlampau jauh. Namun apa daya, matahari sore bergerak turun lebih cepat dari perkiraan. Guratan warna jingga di ufuk barat memberi tanda bahwa waktu Magrib sudah di pelupuk mata, memaksa kami untuk menyudahi petualangan ini.
Kompleks makam sang Ratu di Gampong Kuta Krueng akhirnya resmi menjadi titik pemberhentian terakhir sekaligus penutup road trip kami hari itu sebelum bertolak pulang. Bagi kami, keluarga besar SJ-410, perjalanan ini bukan sekadar urusan memacu mesin, menguji ketangguhan unit, atau sekadar berfoto bersama. Ini adalah sebuah ziarah budaya-sebuah cara romantis untuk merawat ingatan bahwa di balik kemudi jip tua yang kami kendarai di era modern ini, ada jejak peradaban besar yang pernah tegak berdiri kokoh di tanah tempat kami berpijak.
