Indeks
News  

Rp100 Juta Dana Ketahanan Pangan Tahun 2023 Raib, Masyarakat Kampung Gemasih Berang

Bener Meriah – Masyarakat Kampung Gemaseh, Kecamatan Pintu Rime Gayo Kabupaten Bener Meriah mempertanyakan raibnya Rp. 100 juta anggaran ketahanan pangan desa tahun 2023.

Berdasarkan keterangan salah seorang warga kampung setempat yang tidak ingin namanya dipublikasikan demi kenyamanan dirinya dan pihak keluarga, bahwa pada tahun 2023 pihak aparatur desa ada menganggarkan dana ketahanan pangan sebesar Rp. 100 juta.

Saat itu, sepengetahuannya dana tersebut dipinjamkan kepada salah seorang pemilik toko grosir yang bernama Hilmi.

“Seingat saya, waktu itu dana ketahanan pangan ini dipinjamkan kepada pak Hilmi pemilik toko grosir yang ada di kampung ini,” ujarnya.

Namun hingga kini setelah 2 tahun berjalan, masyarakat melihat ada kejanggalan dalam penggunaan dana ketahanan pangan tahun 2023 tersebut, dimana pihak aparatur kampung belum juga melakukan pertanggungjawaban atas penggunaan dana tersebut

Sekretaris Kampung atau Banta Kampung Gemaseh, Mustafa Kamal, yang dimintai tanggapannya terkait hal ini mengakui bahwa memang benar dana tersebut dititipkan di toko Hilmi pemilik grosir di kampung itu.

Hal ini menurut Mustafa yang mengaku juga sebagai PPTK atau pihak yang paling bertanggung jawab atas penggunaan dana tersebut dikarenakan adanya instruksi pemerintah untuk program Repoting stock.

Dimana menurut Mustafa pihak aparatur kampung sepakat untuk menempatkan dana tersebut pada toko grosir milik Hiimi, dengan kesepakatan jika terjadi bencana atau hal urgent lainnya pihak desa akan menarik dana tersebut.

“Ia, dana itu jumlah totalnya Rp. 100 juta, namun setelah potong pajak dan lain-lain sisa Rp. 70 juta, dan Rp. 60 juta kita serahkan ke Helmi dan Rp. 10 juta saya ambil untuk keperluan kampung lainnya,” ujar Mustafa, Rabu, (14/01/26).

Lebih lanjut Mustafa mengatakan, hingga saat ini pihaknya mengaku merasa kesulitan untuk melakukan penarikan uang tersebut dari Hilmi, karena menurut Mustafa, pasca 2 tahun dana tersebut dipinjamkan kepadanya, Hilmi saat ini terkesan menghindar dan apatis terhadap pengembalian dana tersebut.

“Memang sebagian sudah dikembalikan Hilmi, namun itu baru sebagian, untuk lebih jelasnya, saya rasa bendahara kampung yang lebih tau tentang total jumlah yang sudah dikembalikan Hilmi, namun sebagian besarnya belum ia kembalikan dan saya sudah 3 kali menyuratinya,” tegas Mustafa.

Sementara itu, Hilmi pemilik toko grosir di Kampung Simpang Nenas mengaku telah mengembalikan dana tersebut kira-kira sebesar Rp. 55 juta, namun ia merasa bingung karena menurutnya uang yang diambil oleh Sekdes, Mustafa sebesar Rp. 10 juta adalah atas nama dia, namun Hilmi merasa Mustafa tidak koperatif dalam pengambilan uang tersebut.

“Benar saat itu uang dana ketahanan pangan dipinjamkan ke saya sebesar Rp. 70 juta, namun setelah serahterima, Sekdes minta Rp.10 juta, nah yang 10 juta ini belum jelas pengembaliannya, sementara sisa 60 juta di saya sudah saya kembalikan sekitar 55 juta,” terang Hilmi.

Penulis : Robby
Exit mobile version