News  

Seorang Ibu-ibu di Medan Jadi Korban “Pria Ganteng” Hasil A.I.

redaksi

Medan – Seorang ibu di Medan menjadi korban penipuan berkedok asmara atau love scam dengan nilai kerugian mencapai Rp120 miliar. Pelaku yang mengaku sebagai pria asal Singapura ternyata juga berasal dari Medan dan menggunakan identitas palsu yang dipoles dengan teknologi kecerdasan buatan atau AI.

Kasus tersebut diungkap Direktur Satgas PASTI, Brigjen Pol. Djoko Prihadi, dalam Seminar on Scams di Jakarta Pusat, Senin (6/7/2026). Menurutnya, korban bekerja di sektor angkutan publik dan menjadi salah satu korban love scam dengan kerugian terbesar yang pernah ditangani.

“Nah itu ada korban yang paling besar itu di Medan, Rp120 miliar, ibu-ibu, dia angkutan publik,” kata Djoko.

Ia menjelaskan pelaku membangun hubungan dengan korban selama sekitar empat bulan. Selama proses tersebut, pelaku memakai identitas pria tampan asal Singapura yang dibuat dengan bantuan AI agar tampak meyakinkan.

“Jadi mereka memang pendekatannya luar biasa. Ganteng banget di akunnya, dia ngakunya orang Singapura, padahal sama-sama orang Medan. Korban orang Medan, pelaku orang Medan,” ujarnya.

Setelah memperoleh kepercayaan korban, pelaku berhasil menguras uang hingga Rp120 miliar. Usai menerima seluruh dana, pelaku menghilang dan memutus komunikasi. Korban baru melaporkan kejadian tersebut sekitar tiga bulan kemudian.

“Salah satu yang paling besar itu. Satu orang loh, Rp120 miliar, empat bulan sudah amblas. Dia lapor sudah sekitar tiga bulan kemudian. Jadi kita juga tracing money-nya, money trail-nya itu sudah sulit. Ya sudah habis semua, sudah hilang,” kata Djoko.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Satgas PASTI, Rizal Ramadhani, mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap modus love scam yang kini semakin sering memanfaatkan teknologi AI. Menurutnya, pelaku membuat foto, wajah, hingga suara palsu untuk membangun identitas yang meyakinkan dan mendekati calon korban.

“Modusnya biasanya perempuan, ngakunya perempuan. Karena semua pakai AI, suara bisa mirip, muka bisa mirip. Jadi waktu dicek muka bisa pakai AI karena mereka tampaknya perempuan,” kata Rizal.

Rizal menjelaskan, setelah korban merasa dekat secara emosional, pelaku mulai meminta uang atau mengarahkan korban membeli produk tertentu. Dana yang telah ditransfer kemudian dibawa kabur oleh pelaku.

“Terus akhirnya dimintai uang, uang itulah yang ditransfer, orangnya hilang. Kira-kira gitu sih gampangnya,” ujarnya.

Sumber : Detik