MANILA – Operasi tanggap darurat masih menjadi fokus utama Pemerintah Filipina setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7–7,8 mengguncang wilayah selatan negara itu dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur di sejumlah daerah terdampak. Hingga Rabu (10/6/2026), tim penyelamat, tenaga kesehatan, dan petugas kemanusiaan masih bekerja di lapangan untuk mengevakuasi warga, menyalurkan bantuan, serta memulihkan layanan dasar bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Data sementara yang dihimpun otoritas setempat menunjukkan sekitar 35 orang meninggal dunia, puluhan lainnya mengalami luka-luka, sementara ribuan warga masih bertahan di pusat-pusat pengungsian akibat kerusakan rumah dan kekhawatiran terhadap gempa susulan.
Pemerintah Filipina melalui Dewan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana (NDRRMC) telah mengerahkan personel gabungan dari militer, kepolisian, petugas pemadam kebakaran, tenaga medis, dan relawan ke berbagai wilayah yang terdampak gempa. Operasi pencarian dan penyelamatan masih dilakukan di sejumlah lokasi yang mengalami kerusakan bangunan cukup parah.
Selain upaya penyelamatan, pemerintah juga memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi. Bantuan berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, tenda darurat, perlengkapan sanitasi, serta obat-obatan terus didistribusikan ke pusat-pusat evakuasi yang menampung warga terdampak.
“Kebutuhan mendesak saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan akses terhadap makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan tempat tinggal sementara yang aman,” demikian fokus penanganan yang disampaikan otoritas kebencanaan Filipina dalam laporan terbaru.
Tim medis juga ditempatkan di sejumlah titik pengungsian untuk memberikan pelayanan kesehatan, termasuk penanganan korban luka, pemeriksaan kesehatan rutin, serta antisipasi penyebaran penyakit yang berpotensi muncul di lokasi pengungsian.
Di sisi lain, pemerintah daerah bersama instansi terkait mulai melakukan pendataan kerusakan rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur publik lainnya. Pendataan tersebut menjadi dasar dalam penyusunan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Pemulihan jaringan listrik, komunikasi, serta akses transportasi juga terus dikebut untuk memperlancar distribusi bantuan kemanusiaan. Sejumlah ruas jalan yang sempat terputus akibat longsor dan kerusakan infrastruktur mulai dibersihkan agar kendaraan logistik dapat menjangkau wilayah terdampak.
Pemerintah Filipina juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Warga diminta mengikuti arahan petugas dan tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman oleh tim teknis.
Sementara itu, di Malaysia, pemerintah mengambil langkah antisipatif segera setelah gempa memicu peringatan tsunami di kawasan. Otoritas setempat mengaktifkan sistem peringatan dini, meningkatkan pemantauan di wilayah pesisir Sabah, serta mengimbau masyarakat menjauhi pantai selama masa kewaspadaan.
Meski tidak mengalami dampak langsung berupa korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur, Malaysia tetap memantau perkembangan situasi di Filipina dan menyatakan kesiapannya untuk memberikan bantuan kemanusiaan apabila diperlukan.
Hingga hari ketiga pascagempa, fokus penanganan di Filipina masih tertuju pada operasi tanggap darurat, perlindungan pengungsi, pelayanan kesehatan, distribusi bantuan logistik, serta pemulihan layanan dasar bagi masyarakat terdampak. Pemerintah setempat menegaskan bahwa seluruh sumber daya yang tersedia akan terus dimobilisasi untuk mempercepat proses penanganan dan membantu warga kembali pulih dari bencana tersebut.








