Lantunan zikir menggema di lingkungan SMAN 1 Lhoksukon saat para siswa mengikuti rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Rabu (7/10/2026).
Suara ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan secara bergantian berpadu dengan penampilan teater, menciptakan suasana religius di tengah lingkungan sekolah.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu diisi dengan sejumlah kegiatan, mulai dari zikir, teater, sambung ayat hingga syarhil Qur’an. Para siswa terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut, menjadikan peringatan Maulid tidak hanya sebagai seremoni, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Suasana semakin khidmat ketika ayat-ayat suci Al-Qur’an dilantunkan. Dari satu suara ke suara lainnya, bacaan Al-Qur’an mengalir dalam rangkaian sambung ayat.
Bagi para siswa, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk belajar sekaligus menghayati nilai-nilai keislaman. Sementara bagi sekolah, peringatan Maulid menjadi momentum untuk menanamkan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan Ustadz Fajri Syahbuddin. Pesan-pesan tentang Rasulullah SAW, akhlak dan kehidupan seorang muslim menjadi bagian penting dari tausiah tersebut.
Sebab mengenang Rasulullah bukan hanya tentang mengetahui sejarah kelahiran beliau. Lebih jauh dari itu, Maulid adalah kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana akhlak Rasulullah hadir dalam kehidupan kita?
Sudahkah kejujuran menjadi kebiasaan? Sudahkah kesantunan menjadi bagian dari perkataan? Sudahkah kasih sayang menjadi cara memperlakukan sesama?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting bagi generasi muda yang kelak akan membawa wajah bangsa dan umat.
Kepala SMAN 1 Lhoksukon, Zulkifli, mengatakan rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di sekolah diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan dan kreativitas siswa.
Zikir, teater, sambung ayat dan syarhil Qur’an serta tausiah menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk menghidupkan suasana Maulid sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman kepada para siswa.
“Di sekolah, pendidikan tidak berhenti pada angka-angka di rapor. Ada akhlak yang harus ditanamkan, ada hati yang harus dibentuk, dan ada nilai-nilai kehidupan yang harus diwariskan,” ujar Zulkifli.
Maulid menjadi salah satu jalan untuk mengingatkan itu semua. Di tengah zaman yang bergerak begitu cepat, ketika perhatian anak-anak muda mudah terseret oleh berbagai suara dunia, lantunan zikir dan ayat Al-Qur’an menjadi semacam jeda. Jeda untuk mengingat Allah, mengenang Rasulullah dan jeda untuk kembali melihat ke dalam diri.
Barangkali itulah makna terdalam dari Maulid di SMAN 1 Lhoksukon. Bukan sekadar panggung, bukan sekadar penampilan, dan bukan pula sekadar perayaan. Melainkan sebuah upaya untuk menanamkan cinta kepada Rasulullah SAW di hati generasi muda.[]
