Warisan Samudera Pasai dan Janji Generasi Hijau dari SMAN 1 Lhoksukon

Bung TMR

Sore itu, Lapangan Kantor Bupati Aceh Utara tidak hanya dipenuhi aktivitas peringatan 800 tahun Kerajaan Samudera Pasai. Di antara jejak sejarah yang sedang dirayakan, tumbuh sebuah pesan penting dari generasi muda: bahwa mengenang kejayaan masa lalu tidak cukup hanya dengan seremoni, tetapi harus diwujudkan melalui tanggung jawab menjaga masa depan.

Pesan itu hadir dari para siswa SMAN 1 Lhoksukon yang menggelar aksi masif Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS), Jumat (11/9/2026) pekan lalu

Dengan semangat Adiwiyata, para pelajar sekolah peraih Adiwiyata Nasional tersebut bergerak membersihkan lingkungan, menanam kepedulian, dan meneguhkan komitmen terhadap bumi. Aksi itu sekaligus menjadi bagian dari perjalanan sekolah menuju target Adiwiyata Mandiri 2027.

Di tengah momentum bersejarah 800 tahun Samudera Pasai, mereka seolah ingin mengatakan bahwa warisan terbesar sebuah peradaban bukan hanya bangunan, catatan sejarah, atau nama besar kerajaan, melainkan generasi yang mampu merawat kehidupan.

“Hubungan sejarah yang kuat dan pelestarian lingkungan adalah kombinasi penting untuk membangun generasi masa depan yang peduli pada bumi,” tegas Kepala SMAN 1 Lhoksukon, Zulkifli, S.Pd., M.Pd.

Bagi Zulkifli, lingkungan hidup bukan sekadar materi pelajaran atau program sekolah yang berlangsung sesaat. Ia harus menjadi budaya yang melekat dalam keseharian siswa, guru, dan seluruh warga sekolah.

Karena itu, PBLHS di SMAN 1 Lhoksukon tidak berhenti pada kegiatan memungut sampah. Gerakan tersebut dibangun melalui serangkaian kebiasaan dan inovasi yang menyentuh berbagai aspek kehidupan sekolah.

Di bidang sanitasi dan drainase, sekolah menghidupkan tradisi Jumat Bersih. Para siswa diajak membersihkan parit dan saluran air sebagai langkah pencegahan banjir serta berkembang biaknya nyamuk. Fasilitas cuci tangan juga disediakan di setiap kelas untuk membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat.

Pada sektor keanekaragaman hayati, halaman sekolah tidak dibiarkan menjadi ruang kosong. Pohon-pohon peneduh ditanam, apotek hidup dikembangkan, dan setiap tanaman diperkenalkan kepada siswa melalui label nama latin. Dari sana, para pelajar tidak hanya mengenal warna hijau, tetapi juga memahami bahwa setiap tumbuhan memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Gerakan pengelolaan sampah pun dilakukan secara lebih serius. Pemilahan sampah, pembuatan kompos, dan aktivasi Bank Sampah menjadi bagian dari upaya mengubah cara pandang warga sekolah terhadap sampah.

Sampah tidak lagi semata-mata sesuatu yang harus dibuang, tetapi dapat dikelola, dimanfaatkan, bahkan memiliki nilai ekonomi.

Yang lebih progresif, sekolah juga mendorong gerakan pengurangan plastik sekali pakai melalui penggunaan tumbler. Kebiasaan sederhana membawa botol minum sendiri menjadi simbol perubahan perilaku yang ingin ditanamkan sejak bangku sekolah.

Di tengah ancaman krisis lingkungan yang semakin nyata, langkah-langkah kecil itu menjadi penting. Sebab perubahan besar sering kali bermula dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Komitmen tersebut juga menyentuh konservasi energi. Efisiensi penggunaan listrik dilakukan secara massal dengan memaksimalkan cahaya alami dan beralih sepenuhnya menggunakan lampu hemat energi LED.

Sementara untuk konservasi air, sekolah memanfaatkan lubang biopori dan mendaur ulang air bekas wudu untuk menyiram tanaman.

Semua gerakan itu menjadi bagian dari satu kesadaran: bahwa sekolah bukan hanya tempat mencetak manusia cerdas, tetapi juga ruang untuk membentuk manusia yang bertanggung jawab terhadap lingkungan tempat ia hidup.

Langkah progresif SMAN 1 Lhoksukon tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Daerah Aceh Utara.

Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Aceh Utara, Saiful Fata, melalui Tim Pembina Adiwiyata Syamsul Rizal, menyampaikan apresiasi atas konsistensi sekolah dalam menjalankan program lingkungan hidup.

Pemerintah daerah berharap gerakan yang dibangun SMAN 1 Lhoksukon dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain di Aceh.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk perilaku generasi masa depan. Ketika kesadaran menjaga lingkungan ditanamkan sejak dini, maka kebiasaan tersebut berpeluang menjadi karakter yang terbawa hingga dewasa.

Di Lapangan Kantor Bupati Aceh Utara, para siswa SMAN 1 Lhoksukon menunjukkan bahwa peringatan 800 tahun Samudera Pasai dapat dimaknai lebih luas.

Jika dahulu Samudera Pasai dikenal sebagai pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, dan peradaban Islam di Asia Tenggara, maka generasi hari ini memiliki tantangan baru: memastikan bumi tetap layak dihuni oleh generasi yang akan datang.

Sejarah telah mewariskan kebanggaan.

Kini, tugas generasi muda adalah memastikan kebanggaan itu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Sebab menghormati sejarah sejatinya bukan hanya dengan mengingat siapa yang pernah berjaya, tetapi juga dengan menjaga kehidupan yang diwariskan kepada kita.

Dan di tangan para siswa SMAN 1 Lhoksukon, masa depan itu sedang ditanam—satu pohon, satu kebiasaan baik, dan satu kepedulian pada bumi.

Jika Anda ingin, feature ini juga bisa saya buatkan dalam versi **lebih emosional dan puitis ala feature Kompas**, atau versi **lebih tajam dengan angle lingkungan, sejarah, dan generasi muda.[]

Penulis : Jefry Tamara