Indeks
News  

800 Tahun Samudera Pasai, Menghidupkan Kembali Jejak Peradaban Islam Nusantara

LHOKSUKON – Peringatan 800 tahun Samudera Pasai di Aceh Utara menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah sekaligus menjaga karakter daerah yang telah diwariskan dari masa lalu.

Ketua Panitia Pelaksana Peringatan 800 Tahun Samudera Pasai dan Aceh Utara, Muhammad Joni, S.H., mengajak masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keamanan serta ketertiban selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Joni secara khusus meminta agar pelaksanaan seluruh agenda tetap memperhatikan ketentuan syariat yang berlaku di Aceh. Menurutnya, peringatan sejarah harus berlangsung dengan tetap menjaga kehormatan dan marwah daerah.

“Kami memohon dukungan dari semua pihak untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Terutama di bidang syariat Islam, agar acara yang mulia ini tidak tercemar oleh hal-hal yang tercela,” ujar Joni saat diwawancarai di Lhoksukon, Senin (7/9/2026).

Ia mengatakan, Samudera Pasai memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Karena itu, peringatan delapan abad tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali sejarah kepada generasi muda.

“Tujuannya adalah agar kita bisa mewariskan nilai-nilai sejarah. Zaman dulu kita megah di semua sektor, terutama keagamaan sebagai pusat penyiaran Islam di Nusantara,” katanya.

Menjaga Marwah Daerah

Rangkaian peringatan 800 tahun Samudera Pasai telah dimulai sejak Minggu (6/9/2026) dengan ziarah ke makam para leluhur dan tokoh Samudera Pasai. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sidang paripurna di DPRK Aceh Utara.

Pada Senin (7/9/2026), panitia melaksanakan upacara pengibaran bendera wilayah Pasai dan Aceh Utara.

Sementara itu, pada Senin malam dijadwalkan pembukaan Festival Kebudayaan “Hiasan Pasai” yang akan berlangsung hingga 13 September 2026.

Joni berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung aman dan tertib serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat sejarah daerahnya.

Menurutnya, kejayaan Samudera Pasai pada masa lalu harus menjadi bahan refleksi untuk membangun masa depan Aceh Utara.

“Peringatan ke-800 tahun ini menjadi momentum untuk melihat ke belakang sekaligus melangkah ke depan demi menjaga marwah dan masa depan generasi Aceh Utara,” ujarnya.

Dengan demikian, peringatan delapan abad Samudera Pasai diharapkan tidak hanya menjadi perayaan sejarah, tetapi juga momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap identitas dan warisan daerah.

Exit mobile version