ACEH UTARA – Tonggak sejarah baru ditorehkan Kabupaten Aceh Utara. Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara resmi menetapkan 7 September sebagai Hari Jadi Kabupaten Aceh Utara melalui sidang paripurna pengesahan qanun yang berlangsung di Aula DPRK Aceh Utara, Minggu (6/9/2026).
Keputusan tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperkuat identitas sejarah Aceh Utara yang dikaitkan dengan jejak panjang peradaban Samudera Pasai, salah satu kerajaan Islam penting yang pernah berkembang di kawasan Aceh.
Sidang paripurna dihadiri Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil, Wakil Bupati Aceh Utara, Ketua dan anggota DPRK Aceh Utara, serta seluruh unsur Muspida dan jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.
Rapat berlangsung tertib dan lancar hingga agenda penetapan hari jadi daerah disepakati.
Ketua DPRK Aceh Utara, Arafat, mengatakan penetapan 7 September sebagai hari jadi merupakan hasil pembahasan bersama antara DPRK dan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara yang didukung kajian akademis serta penelusuran sejarah.
“Sesuai dengan hasil paripurna tadi, bersama dengan Pemerintah Aceh Utara, telah kita tetapkan bahwa Hari Ulang Tahun Aceh Utara jatuh pada tanggal 7 September setiap tahunnya,” ujar Arafat seusai sidang.
Menurutnya, keputusan tersebut akan dituangkan dalam Qanun Kabupaten Aceh Utara sehingga memiliki landasan hukum sebagai dasar peringatan hari jadi daerah setiap tahun.
Penetapan ini tidak hanya dimaknai sebagai perubahan tanggal peringatan hari jadi, tetapi juga menjadi upaya menghubungkan identitas Aceh Utara dengan perjalanan sejarah kawasan Samudera Pasai.
Dalam rangkaian kajian sejarah tersebut, usia sejarah Aceh Utara dikaitkan dengan perjalanan peradaban Samudera Pasai yang telah mencapai sekitar 800 tahun. Momentum tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kembali kesadaran masyarakat terhadap warisan sejarah dan kebudayaan yang berkembang di wilayah Aceh Utara.
Daftar Isi
Samudera Pasai dan Identitas Aceh Utara
Samudera Pasai memiliki posisi penting dalam sejarah Nusantara, khususnya dalam perkembangan Islam, perdagangan, kebudayaan, serta hubungan antarkawasan di Asia Tenggara.
Karena itu, pengaitan sejarah Aceh Utara dengan Samudera Pasai menjadi bagian penting dalam membangun identitas daerah yang tidak hanya berorientasi pada masa kini, tetapi juga berpijak pada perjalanan sejarah yang panjang.
Arafat mengatakan, pembahasan mengenai identitas daerah tidak berhenti pada penetapan hari jadi. DPRK bersama pemerintah daerah juga akan menindaklanjuti sejumlah aspek lain yang berkaitan dengan identitas dan kekhasan Aceh Utara.
“Untuk lambang dan hal lainnya, nanti akan kita koordinasikan lagi dengan pihak pemerintah. Hari ini fokus utama kita adalah penetapan tahun dan tanggal hari jadi,” katanya.
Salah satu hal yang akan ditindaklanjuti adalah kemungkinan penguatan unsur sejarah Kerajaan Samudera Pasai dalam lambang daerah, termasuk pembahasan mengenai kuliner tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Aceh Utara.
Momentum Kebangkitan Sejarah
Dengan ditetapkannya 7 September sebagai hari jadi, pemerintah daerah bersama DPRK diharapkan tidak hanya menjadikan peringatan tersebut sebagai agenda seremonial tahunan.
Momentum itu dapat diarahkan menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi muda, penguatan kebudayaan daerah, pengembangan kawasan cagar budaya, serta promosi sejarah Aceh Utara sebagai bagian dari warisan peradaban Islam di Asia Tenggara.
Sidang paripurna DPRK Aceh Utara pada Minggu, 6 September 2026, akhirnya menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan daerah. Sehari sebelum tanggal yang ditetapkan sebagai hari jadi, lembaga legislatif dan eksekutif daerah secara resmi mengukuhkan 7 September sebagai Hari Jadi Kabupaten Aceh Utara.
