Indeks
News  

Gempa Besar Filipina Tinggalkan Duka Mendalam, 37 Tewas dan Ribuan Mengungsi

MANILA – Satu hari setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,8 mengguncang wilayah selatan Filipina, jumlah korban jiwa terus bertambah. Hingga Selasa (9/6/2026), sedikitnya 37 orang dilaporkan meninggal dunia, sekitar 479 orang mengalami luka-luka, dan empat lainnya masih dinyatakan hilang.

Gempa yang berpusat di lepas pantai Provinsi Sarangani, Pulau Mindanao, terjadi pada Senin pagi (8/6/2026) dan memicu kerusakan luas di sejumlah wilayah, terutama Kota General Santos, Sarangani, South Cotabato, dan Davao Occidental.

Tim penyelamat masih berpacu dengan waktu untuk mencari korban yang diduga terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Sejumlah alat berat dikerahkan untuk mempercepat proses evakuasi di lokasi-lokasi yang mengalami kerusakan paling parah.

Pemerintah Filipina melaporkan lebih dari 20.000 warga terpaksa mengungsi ke pusat-pusat evakuasi darurat setelah rumah mereka rusak atau dinilai tidak aman untuk dihuni. Selain itu, sekitar 88.000 penduduk terdampak langsung oleh bencana tersebut.

Kerusakan infrastruktur tercatat cukup signifikan. Ribuan rumah mengalami kerusakan, sementara sekolah, rumah sakit, gedung pemerintahan, jalan raya, serta fasilitas publik lainnya turut terdampak. Bandara Internasional General Santos sempat menghentikan operasional akibat pemeriksaan keselamatan pascagempa.

Salah satu peristiwa paling mematikan terjadi di Sarangani, ketika tanah longsor yang dipicu guncangan kuat menimbun sejumlah permukiman dan menyebabkan banyak korban jiwa. Di Kota General Santos, beberapa bangunan komersial runtuh, termasuk sebuah restoran cepat saji yang saat kejadian masih dipenuhi pengunjung.

Aktivitas gempa susulan juga masih terus terjadi. Otoritas seismologi Filipina mencatat puluhan gempa susulan dengan kekuatan terbesar mencapai Magnitudo 6,7. Kondisi tersebut membuat ribuan warga memilih bertahan di tempat terbuka atau pusat pengungsian karena khawatir akan guncangan lanjutan.

Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., telah memerintahkan pengerahan seluruh sumber daya pemerintah untuk mendukung operasi penyelamatan, penanganan korban, serta distribusi bantuan kemanusiaan. Pemerintah juga menangguhkan kegiatan belajar mengajar di sejumlah wilayah terdampak hingga pemeriksaan keamanan bangunan sekolah selesai dilakukan.

Gempa kuat tersebut sempat memicu peringatan tsunami di Filipina, Indonesia, dan beberapa negara kawasan Pasifik. Namun, setelah pemantauan menunjukkan kondisi laut kembali stabil, otoritas terkait mencabut peringatan tersebut.

Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya kenaikan muka air laut di beberapa wilayah Sulawesi Utara sebagai dampak tsunami kecil yang dipicu gempa Mindanao. Meski demikian, BMKG memastikan ancaman tsunami telah berakhir dan masyarakat diminta tetap tenang.

Hingga kini, fokus utama pemerintah Filipina masih tertuju pada pencarian korban hilang, penanganan warga terluka, pemulihan layanan dasar, serta pendataan kerusakan yang diperkirakan bernilai miliaran peso.

Bencana ini menjadi salah satu gempa paling mematikan yang melanda Filipina dalam beberapa tahun terakhir dan kembali mengingatkan tingginya kerentanan negara tersebut terhadap aktivitas seismik karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire)

Exit mobile version