MANILA, 8 Juni 2026 – Gempa bumi kuat berkekuatan Magnitudo (M) 7,8 mengguncang wilayah lepas pantai Mindanao, Filipina Selatan, Senin (8/6) pagi waktu setempat. Bencana tersebut menyebabkan sedikitnya 35 orang meninggal dunia dan lebih dari 200 orang mengalami luka-luka, sekaligus memicu peringatan tsunami di sejumlah negara Asia Tenggara sebelum akhirnya dicabut beberapa jam kemudian.
Berdasarkan laporan otoritas Filipina, episentrum gempa berada di dekat Provinsi Sarangani, sebelah barat daya Kota General Santos. Guncangan kuat merusak berbagai bangunan, memicu tanah longsor, menyebabkan gangguan listrik dan komunikasi, serta mengakibatkan kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah dan gedung saat gempa terjadi.
Tim penyelamat hingga Senin malam masih melakukan operasi pencarian dan evakuasi di sejumlah lokasi yang mengalami kerusakan parah. Beberapa bangunan dilaporkan runtuh, termasuk fasilitas komersial dan sekolah, sementara sejumlah korban ditemukan tertimbun reruntuhan bangunan maupun material longsoran.
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., memerintahkan pengerahan personel militer, tim tanggap darurat, serta bantuan kemanusiaan ke wilayah terdampak. Pemerintah juga menangguhkan kegiatan belajar mengajar di sejumlah daerah di Mindanao guna mengantisipasi risiko gempa susulan yang masih terus terjadi.
Menurut lembaga seismologi Filipina, gempa utama diikuti lebih dari 200 gempa susulan dengan beberapa di antaranya berkekuatan di atas Magnitudo 6. Aktivitas tersebut menyebabkan proses pendataan kerusakan dan pencarian korban berlangsung lebih lambat karena tingginya risiko runtuhan lanjutan.
Daftar Isi
Tsunami Sempat Ancam Sejumlah Negara
Gempa besar tersebut memicu peringatan tsunami di Filipina dan sejumlah negara di kawasan Pasifik Barat, termasuk Indonesia dan Malaysia. Otoritas di wilayah pesisir diminta melakukan evakuasi sementara sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan gelombang tsunami.
Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk beberapa wilayah di Indonesia bagian timur. Pemantauan menunjukkan adanya kenaikan muka air laut di sejumlah titik pengamatan, dengan gelombang tertinggi tercatat sekitar 0,75 meter di wilayah Talengan, Sulawesi Utara. BMKG kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami setelah kondisi dinyatakan aman.
Kalimantan dan Brunei Tidak Mengalami Dampak Signifikan
Meski peringatan tsunami sempat diberlakukan untuk sejumlah wilayah pesisir di kawasan Asia Tenggara, hingga saat ini tidak terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan signifikan di Pulau Kalimantan dan Brunei Darussalam akibat gempa tersebut.
Beberapa wilayah pesisir Kalimantan bagian utara dan timur sempat berada dalam status kewaspadaan menyusul potensi gangguan muka laut. Namun hasil pemantauan tidak menunjukkan dampak besar yang mengancam keselamatan masyarakat. Aktivitas masyarakat di sebagian besar wilayah Kalimantan dilaporkan tetap berjalan normal setelah peringatan tsunami dicabut.
Sementara itu, otoritas Malaysia sempat mengeluarkan peringatan untuk wilayah Sabah yang berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi. Namun setelah evaluasi lanjutan, peringatan tersebut dicabut karena ancaman tsunami dinilai telah berlalu. Tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan besar di Malaysia dan Brunei Darussalam.
Gempa Mindanao ini menjadi salah satu gempa terkuat yang terjadi di kawasan Asia Tenggara sepanjang tahun 2026. Para ahli menyebut gempa tersebut dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng tektonik di kawasan yang merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), salah satu zona seismik paling aktif di dunia.
