Indeks
News  

Siasat Gadis Lhokseumawe Menjinakkan Mandarin di Jantung Taipei

Aisyah Safrina (tengah) berfoto bersama kedua orang tuanya usai prosesi wisuda di National Taiwan Normal University, Taipei, Taiwan, Sabtu (30/5/2026). (Foto: Dokumen Nayan untuk Notula)

TAIWAN – Aisyah Safrina, gadis kelahiran 23 Maret 2004 asal Lhokseumawe, berhasil meruntuhkan sekat geografis sejauh 3.400 kilometer demi merengkuh gelar sarjana dari National Taiwan Normal University (NTNU). Di balik toga yang dikenakannya dalam prosesi wisuda pada Sabtu, 30 Mei 2026, tersimpan kisah tangguh seorang remaja Serambi Mekah yang nekat menjinakkan ribuan karakter Hanzi di salah satu kampus paling kompetitif di Taiwan.

Langkah berani anak sulung dari tiga bersaudara ini sejatinya dimulai pada Fall Semester 2023. Kala itu, ia mengambil keputusan besar: melamar ke Department of Chinese as a Second Language NTNU, sebuah program studi yang menguliti bahasa Mandarin dari sisi linguistik dan pedagogi khusus untuk penutur asing.

Bagi seorang remaja yang tumbuh dalam kultur Aceh, mempelajari Mandarin di level akademik tertinggi tentu bukan perkara sepele. Aisyah tidak hanya dituntut menghafal guratan kuas yang rumit, tetapi juga harus bertarung di tengah kepungan aksen lokal yang asing di telinga.

Selama tiga setengah tahun bermukim di Taipei, hari-hari Aisyah diwarnai oleh benturan budaya dan tuntutan akademik yang tinggi. Ia praktis harus berjibaku dengan lingkungan kosmopolitan yang sepenuhnya baru, yang sangat kontras dengan iklim komunal masa kecilnya di Aceh.

Namun, kejutan budaya itu tidak membuatnya surut. Dengan kedisiplinan baja, Aisyah perlahan melebur dengan ritme hidup masyarakat Taiwan, mengonversi setiap tekanan menjadi bahan bakar untuk menyelesaikan studinya tepat waktu.

Perjuangan panjang itu akhirnya mencapai puncaknya di ruang wisuda akhir pekan ini. Momen sakral tersebut kian emosional karena kedua orang tuanya, Ahmad Nayan dan Mimie Kardina Batoebara, terbang langsung dari Aceh untuk menyaksikan sang putri menyandang gelar sarjana.

Sang ayah, Ahmad Nayan, bukanlah sosok yang asing di ruang publik tanah Rencong. Selain dikenal sebagai dosen Teknik di Universitas Malikussaleh, ia juga aktif di dunia hobi sebagai anggota komunitas otomotif SJ-410 Chapter Kota Lhokseumawe.

Bagi keluarga akademisi ini, keberhasilan Aisyah menembus tembok tebal pendidikan internasional adalah buah dari investasi panjang dan komitmen yang konsisten terhadap masa depan anak.

Saat dihubungi melalui pesan teks WhatsApp langsung dari Taiwan, Ahmad Nayan tidak dapat menyembunyikan rasa haru yang membuncah atas pencapaian sang putri sulung.

“Melihat Aisyah berdiri di podium wisuda kampus ternama di Taiwan adalah momen yang luar biasa bagi kami. Sebagai orang tua, semua lelah, kecemasan, dan pengorbanan rasanya terbayar lunas,” ucap Nayan dengan nada bangga.

Nayan menaruh asa agar capaian ini menjadi virus optimisme di tanah kelahiran. “Kami berharap ini bisa menjadi pembakar semangat anak-anak di Aceh. Keterbatasan daerah sama sekali bukan alasan untuk gentar bersaing di panggung internasional,” ujarnya.

Lebih dari sekadar kebanggaan kolektif, Nayan juga menaruh harapan besar bagi langkah Aisyah ke depan. Ia ingin sang putri tidak cepat berpuas diri dengan gelar sarjana yang baru diraih, melainkan terus merawat dahaga akan ilmu pengetahuan. Nayan berharap Aisyah bisa melanjutkan estafet pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, mengaplikasikan ilmu yang didapat untuk menjembatani dunia internasional, serta tetap membumi dan membawa maslahat bagi masyarakat luas, ke mana pun kelak takdir karier membawanya.

Harapan sang ayah kini berkelindan dengan realitas yang didekap Aisyah. Selembar ijazah dari NTNU di tangannya bukan lagi sekadar simbol kelulusan, melainkan proklamasi senyap yang dikirimkan balik ke kampung halaman. Di tengah skeptisisme global tentang masa depan anak daerah, kisah dari Lhokseumawe ini memberi fajar baru: bahwa di mana ada tekad yang dirawat, di situ batas dunia akan melumat.

Penulis : Zaman Huri
Exit mobile version