Lumpur yang menempel di lantai kelas MAN 6 Aceh Utara tak hanya menyisakan bau lembap, tetapi juga cerita tentang waktu belajar yang sempat terhenti. Selasa (30/12/2025) itu, cerita tersebut pelan-pelan diubah oleh sivitas Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe. Pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa hadir bersama, mengubah ruang kelas yang sempat lumpuh menjadi tanda harapan baru.
Aksi pembersihan sekolah keempat pascabanjir ini bukan sekadar kerja fisik. Bagi sivitas FUAD, ini adalah wujud nyata kolaborasi kampus: tidak ada sekat jabatan, tidak ada jarak antara pimpinan dan mahasiswa. Semua larut dalam satu tujuan, mengembalikan ruang belajar bagi para siswa.
Dekan FUAD, Dr. Ruhama Wazna, MA., bersama pimpinan fakultas lain tampak berada di barisan depan. Bagi FUAD, turun langsung ke lokasi bencana adalah bagian dari identitas fakultas yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai napas akademik. Pengabdian tidak berhenti di mimbar atau jurnal, tetapi hadir di tengah masyarakat.
Wakil Dekan III FUAD Bidang Kemahasiswaan, Rizqi Wahyudi, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam aksi ini adalah bagian dari proses pembelajaran itu sendiri.
“Kami ingin sivitas akademika FUAD belajar langsung tentang empati, kerja sama, dan kepekaan sosial. Di sini mereka tidak hanya membawa atribut kampus, tetapi juga hati. Inilah pendidikan karakter yang sesungguhnya,” ujarnya.
Mahasiswa FUAD terlihat menyatu dengan dosen dan tendik, membersihkan kelas, mengangkut sisa lumpur, dan merapikan fasilitas sekolah. Bagi mereka, ini bukan kegiatan seremonial, melainkan pengalaman yang akan membekas lebih lama daripada satu semester perkuliahan.
Kolaborasi lintas unsur kampus juga diperkuat oleh kehadiran Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Sinergi ini menjadi gambaran bahwa pengabdian pascabencana adalah tanggung jawab bersama, bukan kerja satu fakultas semata.
Dari sudut pandang akademisi, pengabdian ini menjadi ruang pertemuan antara ilmu dan realitas sosial. Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Riza Mirza, melihat kegiatan ini sebagai praktik nyata dari apa yang selama ini dibahas di kelas.
“Ilmu tidak boleh berhenti sebagai teori. Pengabdian seperti ini adalah titik temu antara pengetahuan, kepedulian sosial, dan keikhlasan. Dosen dan Mahasiswa belajar bahwa dakwah dan komunikasi tidak selalu lewat kata-kata, tetapi lewat tindakan,” katanya.
Aksi pembersihan MAN 6 Aceh Utara ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama RI ke-80, dengan tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju.” Tema tersebut diterjemahkan sivitas FUAD secara sederhana namun bermakna: hadir, bekerja bersama, dan memberi solusi.
Bagi sivitas FUAD UIN SUNA, membersihkan sekolah bukan hanya tentang mengangkat lumpur, tetapi juga merawat harapan. Harapan agar proses belajar segera pulih, harapan agar mahasiswa tumbuh dengan kepekaan sosial, dan harapan agar kampus benar-benar menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat.






